Duwitmu

Cara Analisa Fundamental Saham Bank BBCA BBRI BBNI BMRI

Dipublish oleh R Quiserto September 18, 2020

Daftar Isi

saham fundamental bank

Saham perbankan adalah sektor saham favorit saya dan selama ini sudah memberikan kinerja harga yang impresif dan salah satu sektor dengan kapitalisasi terbesar di BEI. Bagaimana cara memilih saham perbankan, apa analisa fundamental yang perlu dilihat ?

Secara alamiah, saya pilih saham bank. Saya punya pengalaman kerja lebih dari 20 tahun di industri perbankan.

Prinsip saya waktu mulai investasi saham adalah pilih sektor yang memang saya kuasai. Jangan paham luar dalamnya industri tersebut.

Seiring waktu, fortunately, saya melihat bahwa saham sektor perbankan termasuk yang paling moncer di BEI. Memberikan kenaikan harga saham yang konsisten dalam 10 sd 15 tahun terakhir.

Apa yang menarik dari sektor ini serta bagaimana menganalisa saham perbankan ?

Apa saja faktor analisa fundamental yang perlu Anda lihat untuk menemukan saham bank terbaik.

Model Bisnis Bank

Analisa Saham Bank
Analisa Saham Bank

Yang pertama kita perlu pahami adalah bagaimana model bisnis bank. Bagaimana bank bisa menghasilkan keuntungan.

Kalau membuka neraca bank, Anda bisa melihat dua komponen utama di aset dan di liabilitas, yaitu:

  • Aset bank sebagian besar terdiri dari kredit atau pinjaman
  • Kewajiban sebagian besar terdiri dari simpanan atau dana pihak ketiga.

Bank menerima dana dari masyarakat, dicatat sebagai kewajiban, dan menyalurkan dana tersebut sebagai pinjaman kepada kreditur yang merupakan aset bank.

Bank mengambil spread atau keuntungan antara selisih bunga kredit dan biaya dana (cost of fund). Bunga pinjaman lebih tinggi dari bunga tabungan, selisih tersebut menjadi sumber keuntungan bank.

Laporan keuangan perbankan akan mencatat penghasilan utama, top line adalah pendapatan bunga bersih (net interest income), selisih bunga pinjaman dan bunga simpanan. 

Selain itu, bank juga mendapatkan penghasilan lain, seperti fee, tetapi jumlahnya relatif kecil dibandingkan dari pengucuran kredit.

Jadi, kunci bisnis bank untuk bisa menghasilkan keuntungan adalah:

  • Mendapatkan dana murah dari masyarakat dalam jumlah yang besar dengan biaya yang kecil.
  • Menyalurkan pinjaman kredit dan memastikan peminjam membayar lunas kredit untuk mendapatkan bunga.

Apakah bank butuh modal besar ?

Bisa ya, bisa tidak.

Kalau menilik ketentuan Bank Indonesia, modal minimum bank adalah Rp 100 M. Jumlah yang tidak sedikit.

Sesuai model bisnis bank, aset perbankan bisa berkembang dengan menarik dana dari masyarakat yang masuk sebagai dana pihak ketiga di tabungan dan deposito, yang kemudian bank salurkan sebagai kredit.

Ketentuan Bank Indonesia menyebutkan bahwa untuk setiap nilai aset, bank harus menyediakan paling sedikit 8% modal, disebut CAR.

Jadi, jika bank terus tumbuh, modalnya harus ikut tumbuh.

Sudah banyak bank di Indonesia, mulai dari yang kecil sampai yang besar, apakah prospek bisnis perbankan masih bagus? Bukankah persaingannya semakin tajam.

Kenapa Sektor Perbankan Menarik

Meskipun persaingan bank tampak ketat, namun sebenarnya pasar perbankan masih sangat besar di Indonesia, hal ini bisa dilihat dari 2 indikator:

  1. Penetrasi Perbankan Rendah
  2. Spread Bunga Bersih Tinggi
  3. Pasar yang Oligopoli

Penetrasi Perbankan Rendah

Perbankan di Indonesia baru menjangkau 36% masyarakat. Lebih rendah dibandingkan negara tetangga, seperti Malaysia 96% dan Thailand 78%.

Dengan penetrasi yang masih rendah dan populasi yang besar, Indonesia sangat menarik buat pasar perbankan. Itu pula sebabnya kenapa gelombang akuisisi asing ke bank – bank di Indonesia masih terus berlangsung.

Pasarnya masih besar sekali. Masih banyak masyarakat Indonesia belum punya akses ke bank.

Spread Bunga Tinggi

Selisih bunga kredit dan bunga tabungan di perbankan Indonesia adalah salah satu yang tertinggi di dunia, angkanya sekarang rata – rata di 4,9%. Sementara, negara – negara di ASEAN rata – rata spread di 1% – 2%.

Tingginya spread menunjukkan besarnya tingkat keuntungan yang bank nikmati ketika memberikan pinjaman kredit ke debitur.

Pasar Oligopoli

Pasar perbankan di Indonesia hanya dikuasai beberapa bank saja. Market share 10 bank terbesar mencapai 70% – 80%.

Keuntungan buat bank – bank besar yang sudah lebih dulu menguasai pasar. Pasar seperti ini disebut pasar oligopoli.

Tidak mudah untuk masuk ke pasar semacam ini, barrier to entry-nya tinggi. Ada aspek permodalan, regulasi, persaingan dan teknologi.

Tidak mudah masuk ke pasar perbankan, salah satunya karena tuntutan modal. Sesuai ketentuan Bank Indonesia, setiap kenaikkan aset harus diikuti kenaikkan modal sebesar minimum 8% dari aset.

Fundamental Saham Perbankan

Bagaimana menganalisa saham perbankan ? Apa indikator yang perlu investor lihat dan analisa secara cermat ?

Pertumbuhan Kredit

Kredit adalah jantung bisnis perbankan. Sekitar 90% aktivitas bisnis bank di Indonesia bertumpu pada penyaluran kredit – bisa lihat di sisi aktiva neraca bank, isinya mayoritas adalah kredit.

Jika tidak memberikan kredit, bank tidak bisa mencetak keuntungan. Penghasilan bunga berasal dari kredit yang diberikan.

Oleh karena itu, indikator utama bisnis bank adalah pertumbuhan kredit. Seberapa tinggi laju pertumbuhan kredit dari waktu ke waktu.

Apakah pertumbuhannya konsisten dari tahun ke tahun. Apakah lebih baik atau buruk dibandingkan pertumbuhan industri perbankan.

Jika pertumbuhannya melambat atau bahkan minus, kita perlu mencari penyebabnya. Kemungkinannya adalah:

  • Kualitas kredit menurun akibat kenaikkan gagal bayar, default dan NPL, sehingga bank harus mengerem laju kredit untuk memastikan penyaluran kredit dilakukan secara sehat.
  • Dana Pihak Ketiga atau Funding untuk membiayai kredit sudah tidak mencukupi sehingga jika laju kredit terus digenjot akan berbahaya buat bank.

Disamping pertumbuhan, komposisi portofolio kredit menjadi penting dilihat untuk menilai jenis segmen dalam penyaluran kredit.

Ketergantungan penyaluran kredit pada segmen tertentu saja akan membahayakan bank. Muncul resiko konsentrasi portofolio jika segmen andalan mengalami masalah.

Pendanaan LDR

Kredit, yang merupakan jantung perbankan, akan tumbuh  jika didukung pendanaan yang mencukupi. Tanpa simpanan masyarakat, dana pihak ketiga, bank tidak punya uang untuk menyalurkan pinjaman.

Ingat modal bank hanya 8% dari assetnya. Bank tidak mungkin bisa tumbuh tanpa pasokan simpanan dari masyarakat.

Untuk mengukur ketersediaan pendanaan, indikatornya adalah Loan Deposit Ratio (LDR) – perbandingkan kredit dengan simpanan.

Nilai LDR yang mendekati 100% akan berbahaya. Artinya, hampir semua dana pihak ketiga sudah digunakan untuk penyaluran kredit.

Bahayanya adalah:

  • Bank tidak bisa menyalurkan kredit lagi. Pertumbuhan kredit mentok.
  • Ada resiko jika terjadi penarikkan dana pihak ketiga secara masif.

LDR yang rendah juga tidak bagus. Artinya, pertumbuhan kredit bank melambat, relatif terhadap simpanan, sementara bank harus tetap membayar bunga tabungan.

Yang bagus adalah LDR bisa dipertahankan di bawah 90% tetapi pertumbuhan kredit tetap tinggi. Menunjukkan bahwa bank mampu mengumpulkan dana pihak ketiga yang cukup memadai untuk mengimbangi kenaikan kredit. 

Net Interest Margin

Apakah bank bisa mendapatkan margin menguntungkan dari pinjaman yang disalurkan ? 

Tentu saja, margin penting, jika tidak bank akan rugi. 

Untuk bisa menghasilkan keuntungan, bunga kredit harus lebih besar dibandingkan bunga tabungan.

Untuk mengukur margin bunga, kita melihat NIM (Net Interest Margin) – selisih antara bunga kredit dan bunga simpanan (cost of fund).

Bank yang bisa mempertahankan NIM secara stabil akan bisa menghasilkan profit yang yang konsisten. Sebaliknya, jika NIM turun, bank bisa dipastikan akan menghadapi turunnya profit.

Trend penurunan NIM di bank – bank besar di Indonesia. Hal ini seiring tekanan bank untuk memberikan tingkat suku bunga kredit yang lebih rendah, sementara persaingan likuiditas untuk menarik simpanan makin ketat.

NPL

Bank harus bisa memastikan bahwa pinjaman yang disalurkan dibayar oleh peminjam. Jika pinjaman gagal bayar menjadi kerugian buat bank.

Indikator kualitas kredit adalah Non Performing Loan atau NPL yaitu terlambat lebih dari 90 hari sejak jatuh tempo.

Kenapa 90 hari ?

Debitur yang menunggak selama 3 bulan tersebut menunjukkan bahwa kemungkinan pembayaran kembali semakin kecil. Selama 3 bulan, bank sudah melakukan berbagai upaya penagihan tetapi debitur tetap tidak membayar tagihan.

NPL menunjukkan tingkat kesehatan portofolio kredit. Semakin tinggi semakin buruk dan sebaliknya.

Batasan Bank Indonesia adalah NPL max 5%.

Pencadangan (Provisi)

NPL punya kelemahan. 

NPL adalah lagging indicator karena kredit masuk NPL setelah terlambat 90 hari. Kalau bermasalah di bulan Februari dan Maret 2020, kreditnya tidak akan muncul dalam NPL di kuartal I tahun tersebut karena belum 90 hari terlambat.

Contohnya, saat pandemi melanda Indonesia di Maret 2020, imbasnya belum tercermin di angka NPL. Padahal, kita semua tahu saat itu bank sudah terkena dampak yang signifikan akan debitur gagal bayar.

Untuk melihat kondisi kinerja kredit yang terkini, misalnya mengukur imbas Covid-19, kita perlu menilik tingkat pencadangan (provisi) yang dibentuk oleh bank.

Ketentuan Bank Indonesia bahwa bank harus membuat pencadangan, atau istilahnya ‘CKPN’, terhadap pinjaman yang diprediksi akan gagal bayar.

Misalnya, bank memberikan total kredit 100 maka bank membuat prediksi dari 100 tersebut berapa yang akan gagal bayar. Andaikan 1% maka bank membentuk pencadangan senilai 1 (hasil dari 100×1%).

Berdasarkan data historis dan penilaian internal, bank membuat estimasi pencadangan (provisi) yang akan dibukukan sebagai kerugian. Nanti saat pinjaman tersebut memang betul – betul gagal bayar, bank akan menggunakan pencadangan untuk menghapus buku pinjaman gagal bayar dari aset bank.

Dengan kata lain, indikasi pinjaman akan banyak gagal bayar adalah kenaikkan nilai pencadangan. Naiknya nilai pencadangan adalah forward-looking indicator akan kesulitan dan kualitas kredit di masa depan.

Special Mention

Definisi NPL adalah kredit yang sudah menunggak 90 hari karena bank menganggap bahwa kredit yang menunggak diatas 90 hari, kemungkinan recovery kecil, sehingga masuk kriteria non-performing loan.

Dalam kondisi normal, debitur menunggak dibawah 90 hari bagi bank masih bisa direcovery. 

Tetapi, dalam kondisi krisis, kemungkinan nasabah yang menunggak di bawah 90 hari untuk lanjut ke 90 hari cukup tinggi.

Karena itu, kita perlu melihat pergerakan kredit yang menunggak dibawah 90 hari sebagai indikasi ada tidaknya masalah di portofolio kredit sejak dini.

Indikator menunggak di bawah 90 hari adalah kredit dalam perhatian khusus (special mention).

Trend portofolio yang masuk special mention harus menjadi perhatian. Apakah meningkat atau stabil.

Permodalan

Permodalan adalah aspek penting dalam perbankan. Modal menunjukkan kemampuan bank menghadapi gejolak dan tekanan ekonomi.

Modal itu ibarat bantalan atau bumper menghadapi hantaman krisis ekonomi. Semakin tinggi modal bank akan semakin kuat menghadapinya. 

Itu sebabnya di saat krisis menggoyang, regulator akan meminta penambahan modal bank ke pemegang saham untuk memperkuat struktur permodalan.

Cara mengukur kuat tidaknya permodalan adalah melihat tingkat CAR – Capital Adequacy Ratio (CAR) atau Rasio Kecukupan Modal.

CAR (Capital Adequacy Ratio) menunjukkan kemampuan perbankan dalam menyediakan dana yang digunakan untuk mengatasi kemungkinan risiko kerugian. Rasio ini penting berarti untuk melindungi nasabah dan menjaga stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan.

Berapa modal yang bank harus sediakan adalah tergantung jumlah asetnya. CAR itu perbandingan modal terhadap asset.

Bank Indonesia menetapkan CAR minimum 8%. Jika asset nya 100, maka modal adalah 8% x 100 yaitu 8.

Asetnya dihitung sebagai aset tertimbang menurut resiko. Artinya untuk perhitungan modal, nilai aset dihitung berdasarkan bobot resikonya.

ROE dan ROA

Apakah investasi di Bank menguntungkan buat pemegang saham ?

Indikator digunakan adalah Return on Equity, yaitu profit dibandingkan ekuitas, berapa persen bank bisa menghasilkan return atau profit dibandingkan ekuitas yang pemegang saham tanamkan di perusahaan.

Di industri perbankan, selain ROE, indikator lain adalah ROA – Return on Asset – profit dibandingkan aset,  yang lebih banyak digunakan serta lebih applicable karena sifat bisnis perbankan yang banyak menggunakan dana masyarakat.

Kedua indikator ini, terutama ROA menjadi metrik paling penting buat investor di saham untuk mengukur kinerja saham. Menentukan layak tidaknya saham bank untuk dibeli atau dijual.

Cara Valuasi Saham Bank

Bagaimana menilai harga saham bank sudah mahal atau  murah ? Mana saham yang layak beli, mana yang layak jual ?

Yang jelas menilai valuasi saham bukan dari nilai harga saham absolut yang lebih mahal atau lebih murah.

Bukan karena harga saham BRI lebih rendah dibandingkan harga saham BNI, maka valuasi BRI lebih rendah. Bukan sama sekali.

Valuasi yang paling basic menggunakan analisa rasio.

Salah satu cara yang paling kerap digunakan adalah menggunakan ukuran PBV atau Price Book Value.

PBV adalah perbandingan harga saham dengan nilai buku perusahaan. Mudah dihitung dan mudah ditemukan dalam laporan analisa saham di sekuritas.

Bandingkan

Membandingkan PBV saham bank yang satu dengan saham bank yang lain. 

Tapi perlu hati – hati membandingkan karena saham bank yang bagus biasanya memang punya PBV yang tinggi, sedangkan bank dengan PBV rendah biasanya memang kualitas kinerjanya tidak sebaik saham bank yang PBV-nya tinggi.

Trend

Trend PBV saham bank itu sendiri dari waktu ke waktu.

Dari trend, kita bisa tahu range normal PBV saham bank tersebut di tingkat berapa dan jika PBV sudah diluar range tersebut bisa menjadi indikasi apakah harga sahamnya sudah murah (time to buy) atau harganya sudah mahal (time to sell).

Top 4 Bank di Indonesia

Di Indonesia, saham perbankan terfokus pada empat bank besar, yaitu BCA, BRI, Mandiri dan BNI. Keempatnya adalah pemimpin pasar perbankan di Indonesia.

Dari sisi kekuatan modal dan penguasaan pasar, keempat bank ini sudah tidak perlu diragukan lagi. Semuanya punya modal ‘jumbo’ dan pemimpin di segmennya masing – masing.

Mana saham bank yang terbaik ?

BBCA

BCA adalah tidak hanya saham bank paling besar tetapi juga saham dengan kapitalisasi terbesar di BEI.

Tapi, harga saham BCA sudah sangat premium diukur dari PBV yang mencapai range 4x. Saham di ketiga bank besar lainnya punya PBV dibawah 3.

Jadi, saham BCA adalah saham bank dengan valuasi harga yang mahal. Ingat: bukan karena harga sahamnya mahal tetapi secara valuasi mahal.

Kenapa valuasi saham BCA bisa sangat premium ?

Tidak lepas dari kinerjanya yang secara konsisten bagus dan lebih baik dari kinerja bank – bank lainnya.

Keunggulan BCA yang paling menonjol adalah memiliki ROA yang paling tinggi diantara yang lain. Tingginya ROA menunjukkan bahwa bank ini paling efisien dalam mengelola asetnya, mencetak profit buat pemegang saham.

Tingginya ROA disebabkan BCA adalah bank dengan cost of fund rendah – thanks to bunga tahapan BCA yang super kecil, meskipun BCAA tidak pernah kekurangan likuiditas (angka LDR-nya paling rendah diantara bank lainnya).

Di BCA, nasabahnya rajin menyimpan uang disana meskipun dibayar bunga yang kecil. Kondisi yang jadi impian banyak bankir.

Kualitas kredit BCA juga paling bagus diantara yang lain, tercermin dari NPL yang konsisten rendah meskipun pertumbuhan kredit diatas rata – rata nasional.

BBRI

BRI adalah Bank terbesar di Indonesia dari sisi tingkat keuntungan. Profit BRI mencapai Rp 30+ Triliun di 2019.

BRI berhasil menggeser posisi Bank Mandiri yang selama ini dikenal sebagai bank terbesar di Indonesia.

Kekuatan BRI adalah segmentasi pasar mikro yang menjadi fokus dan keahlian bank ini selama puluhan tahun. 

Boleh dibilang saat ini, BRI tidak punya saingan yang berarti di segmen mikro. Semua kompetitornya yang dulu tergiur dan masuk ke mikro, sekarang sudah mundur teratur, mengakui keunggulan BRI di segmen ini.

Keuntungan BRI di segmen mikro adalah (a) marginnya paling tinggi, NIM BRI termasuk tertinggi; (2) pasarnya luas sekali, masih banyak peluang yang belum tersentuh di pasar mikro.

Jika dilihat memang secara ROA, BRI tidak sebaik BCA meskipun secara aset dan profit BRI lebih tinggi. BRI tidak seefisien BCA dalam menghasilkan keuntungan buat pemegang saham.

Mungkin akibat ROA yang lebih rendah, BRI tidak bisa mencatat valuasi setinggi BCA. 

Secara valuasi, PBV BRI ada di bawah BCA. PBV BRI secara historis di 2x sd 2.5x. Sekarang di Sept-2020 PBV BRI 2.16x.

Market sepertinya masih menempatkan kinerja BRI dibawah BCA merujuk pada valuasi PBV.

BMRI

Bank Mandiri (BMRI) pernah menjadi bank terbesar di Indonesia, tetapi sekarang posisinya digeser oleh BRI.

Keunggulan Mandiri adalah bank yang punya portofolio pinjaman di berbagai sektor, mulai dari konsumsi, SME, UMKM sampai korporasi. Dengan portofolio pinjaman yang terdiversifikasi dengan luas, bank ini tahan goncangan.

Disamping itu, Mandiri memiliki berbagai anak perusahaan yang bergerak di bidang keuangan, mulai dari asuransi, sekuritas sampai leasing. Konglomerasi keuangan di Mandiri ini membuat proses kolaborasi dan aliansi menjadi mudah terutama untuk bisa melakukan cross-selling produk dan nasabah.

Dari sisi valuasi saham, Mandiri lebih murah dibandingkan BCA dan BRI. PBV Mandiri di 1.43x per awal Sept-2020.

Kinerja Mandiri dilihat dari berbagai metrik memang masih dibawah BCA dan BRI.

Market tampaknya sudah mendiskon kinerja Mandiri tersebut ke dalam valuasi saham BMRI yang lebih rendah dibandingkan kedua kompetitornya.

Sebenarnya, dengan valuasi yang lebih murah, investasi di saham Mandiri merupakan kesempatan untuk meraup keuntungan di masa depan jika kinerja bank ini membaik.

Trend-nya kinerja Mandiri terus membaik dari tahun ke tahun, dari kuartal ke kuartal. Sebuah peluang untuk investasi jangka panjang.

BBNI

BNI atau saham BBNI adalah salah satu bank tertua di Indonesia dengan jaringan cabang yang tersebar di seluruh Indonesia.

BNI adalah bank yang terkenal kuat di segmen pengusaha menengah, SME – Small Medium Enterprises. Kalau BRI kuat di mikro, BNI kuat di segmen lebih atas, yaitu SME.

Yang paling menarik perhatian adalah valuasi BNI yang paling murah diantara ke-4 bank terbesar di Indonesia ini.

Murahnya, murah banget, karena PBV BNI lebih rendah dari 1. Data di awal Sept-2020 PBV BNI adalah 0.83.

PBV dibawah 1 artinya, harganya lebih rendah dibandingkan nilai aset perusahaan (setelah dikurangi kewajiban dan hutang). Ibaratnya, Anda punya tanah harga pasaran Rp 1 M yang sekarang dijual di Rp 800 juta.

Kenapa PBV BNI relatif paling rendah ?

Lagi – lagi, market melihat kinerja BNI paling buncit dibandingkan ke-3 bank terbesar lainnya. Market melakukan valuasi dengan cukup efisien.

Hampir di semua metrik indikator perbankan, BNI dibawah ke-3 bank lainnya.

Namun, jarang – jarang saham bank besar seperti BNI, dengan sejarah dan portofolio kredit terbesar ke-4 di Indonesia, punya nilai PBV dibawah nilai bukunya.

Ketika ekonomi kembali normal, kemungkinan saham dengan PBV rendah yang akan loncat paling tinggi.

Tips Investasi Saham Bank

Dari pengalaman, saya ingin share beberapa tips investasi saham di sektor perbankan.

  • Perbankan adalah sektor yang menjanjikan di Indonesia. Pasarnya masih terbuka luas karena rendahnya penetrasi perbankan di Indonesia.
  • Fokus pada 4 bank terbesar yang merupakan penguasa pasar dan kinerjanya paling bagus. Pasar bank yang oligopoli membuat bank besar relatif sulit dikalahkan.
  • Bank besar punya struktur modal yang kuat, tercermin dari nilai CAR yang tinggi diatas 20%. Modal yang kuat membuat bank tahan badai dan krisis ekonomi
  • Jangan lupa untuk selalu diversifikasi investasi. Meskipun dalam beberapa tahun sektor perbankan naik paling tinggi di BEI, di masa depan tidak ada jaminan kinerjanya akan sama.
  • Perhatikan valuasi saham untuk memutuskan beli atau jual saham. Namun, valuasi yang paling murah belum tentu saham bank yang kinerjanya paling bagus. Market cukup efisien dalam melakukan valuasi berdasarkan kinerja saham.

Kesimpulan

Perbankan adalah salah satu sektor paling moncer di bursa saham Indonesia yang pertumbuhan harga sahamnya paling tinggi dalam beberapa tahun belakangan ini. Ada kesempatan untuk meraup keuntungan di saham – saham bank.

Meskipun demikian, karena kinerja masa lalu bukan jaminan kinerja masa depan, selalu belajar, analisa dengan baik dan lakukan diversifikasi investasi.

Bagikan Melalui

Artikel Terkait

Sekuritas Tutup

Sekuritas Broker Saham Tutup Bangkrut Suspend (...

October 9, 2020 0 Komentar

Bagaimana jika sekuritas broker saham tutup, bangkrut, kena suspend atau bubar? Apakah uang dan s... Baca Lagi

KSEI Saham

Apa itu Akses KSEI | Perlindungan Saat Sekurita...

August 31, 2020 0 Komentar

Bagaimana kalau broker sekuritas saham tutup, bubar atau suspend dibekukan izinnya oleh OJK ? Apa... Baca Lagi

Trading Saham

10 Aplikasi Trading Saham Online Terbaik untuk ...

August 21, 2020 1 Komentar

Investasi saham membutuhkan aplikasi trading yang bisa diandalkan dan mudah digunakan. Saya menca... Baca Lagi

Wall Street Bursa Saham

Pengalaman Investor Indonesia Sukses Investasi ...

August 18, 2020 1 Komentar

Apakah bisa main saham di pasar USA dengan sukses, mudah dan murah ? Bisa ! Ada beberapa investor... Baca Lagi

ETF USA eToro

ETF Reksadana Indeks | Cara Investasi Saham Mur...

July 28, 2020 1 Komentar

Orang awam pemula yang masih takut – takut, sekarang bisa masuk investasi di pasar saham, c... Baca Lagi

Saham Bank BCA BBCA

Saham BBCA Bank BCA Tbk. IDX (Harga & Anal...

July 24, 2020 0 Komentar

BBCA adalah saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI, mengalahkan TLKM Telkom yang selama ... Baca Lagi

Belum Ada Komentar

Tulis Komentar

Email Anda tidak akan di publish