Silakan masukkan kata kunci pada kolom pencarian

Apa Beli Saham IPO Untung atau Rugi ? Hasil Riset 2022

Daftar Isi

Apa Beli Saham IPO Untung atau Rugi ? Hasil Riset 2022

Banyak yang berpendapat bahwa beli saham IPO rugi. Itu pendapat yang umum di kalangan investor, khususnya pemula. Tapi, apakah betul beli saham di penawaran perdana merugikan ? Atau malah sebaliknya, beli saham IPO (Initial Public Offering) menguntungkan ?

Data empiris dari sejumlah riset akademis menunjukkan bahwa beli saham IPO untung. Ada fenomena underpricing IPO di Indonesia. Namun, sejumlah hal harus diperhatikan dengan cermat karena banyak asumsi dan pertimbangan yang harus diperhitungkan sebelum melakukan investasi.

Saat ini sedang ramai - ramainya diskusi soal IPO saham GoTo - Gojek dan Tokopedia. Debat panas banyak terjadi di berbagai forum, yang umumnya kurang mendukung beli saham di penawaran perdana.

Sebelumnya Bukalapak (BUKA) sudah melakukan Initial Public Offering dan harga sahamnya turun dalam sekali. Akibatnya, banyak orang pesimis.

Tapi, apa betul investasi di saham IPO itu jelek dan merugikan ? Bukankah banyak juga berita, orang yang untung besar karena berinvestasi di penawaran saham perdana.

Untuk menjawabnya, saya merujuk ke beberapa penelitian akademis Initial Public Offering BEI dan mencoba mencari jawabannya

Untung vs Rugi Investasi Saham IPO

Ada perbedaan pendapat yang tajam antara yang pro dan kontra soal investasi saham di pasar perdana.

A. Alasan Rugi Beli Saham IPO

Yang kontra berpendapat bahwa perusahaan yang melakukan IPO pasti ingin menjual harga sahamnya semahal mungkin di pasar.

Perusahaan pasti tidak ingin jual rugi. Mereka inginnya untung.

Karena perusahaan inginnya untung, maka harga saham IPO dijual mahal. Harga saham IPO Overvalue.

Istilahnya Pak LKH, “kita tidak mungkin mendapatkan saham Mercy di harga Avanza dalam IPO”.

Banyak pula yang enggan beli saham yang belum punya track record.

B. Alasan Untung Beli Saham IPO

Yang mendukung beli saham saat IPO melihat bahwa perusahaan yang menjual saham dan broker sekuritas underwriter yang menjamin emisi IPO akan berupaya mempertahankan harga perdana di pasar sekunder.

Mereka tidak ingin reputasinya jatuh sehingga harga saham IPO akan dijaga agar bagus kinerjanya.

Dari sisi praktis, banyak orang yang juga sudah menikmati keuntungan dari beli saham saat IPO. Jadi, orang yang untung dari IPO itu nyata.

kemudian, saham tidak hanya soal jangka pendek tetapi jangka panjang. jadi, melihat kinerja saham tidak hanya setelah IPO, tetapi juga ke jangka panjang.

Cara Mengukur Kinerja Harga IPO

Untuk menjawab, apakah beli saham IPO menguntungkan atau merugikan, kita harus melihat ke data empiris soal harga saham IPO.

Karena, percuma kita berdebat berdasarkan opini. Setiap orang bisa punya pandangan subjektif soal saham.

Kebetulan, banyak penelitian akademis sudah dilakukan untuk melihat dan mengevalusi masalah kinerja harga saham setelah IPO. 

Kami dengan menggunakan bantuan Google Scholar mencari penelitian - penelitian tentang kinerja harga saham IPO. Hasilnya, coba kami rangkum dalam tulisan ini.

Dari membaca literatur yang ada, kami jadi paham bahwa dalam dunia akademis untuk menilai kinerja harga setelah IPO, dibedakan dua hal, yaitu

  • Underpricing vs Overpricing
  • Abnormal Return (Overperform, Underperform)

Kedua istilah ini penting kita pahami dulu.

a. Underpricing, Overpricing IPO

Underpricing dan Overpricing adalah perbandingan harga IPO dengan harga penutupan saham di hari pertama tercatat di bursa.

  • Underpricing adalah harga penutupan bursa lebih tinggi dibandingkan harga IPO
  • Overpricing adalah harga penutupan bursa lebih rendah dibandingkan harga IPO

Singkatnya, buat investor, underpricing menguntungkan karena bisa meraih cuan dari kenaikkan harga saham IPO, sedangkan overpricing merugikan karena harga penutupan di pasar sekunder di bawah harga IPO.

b. Keuntungan, Kerugian (Abnormal Return)

Overpricing dan Underpricing dilakukan pada hari pertama pencatatan di bursa, sementara kalau menilai kinerja harga saham perlu beberapa waktu, maka peneliti menggunakan abnormal return.

Abnormal return adalah kenaikkan harga saham dari harga penawaran perdana dibandingkan dengan di atas kenaikkan harga pasar (diukur dari indeks harga), selama periode tertentu.

Jadi, kalau saham IPO bisa mencatat abnormal return itu artinya kenaikkan harga saham di atas kenaikkan harga pasar.

Logikanya, kinerja saham yang bagus adalah yang bisa meningkat lebih tinggi dari kinerja indeks harga pasar. Ini untuk menunjukkan bahwa kenaikkan harga saham bukan karena dorongan sentimen pasar semata.

Saham disebut:

  • Overperformance: abnormal return > 0
  • Underperformnace: abnormal return < 0

Hasil Riset Data Empiris

Kami melihat di Google Scholar dan data di Universitas Gadjah Mada untuk mencari penelitian yang relevan.

1. Vizna, Fadhilah (2021)

Penelitian Vizna, Fadhilah (2021) berjudul “ANALISIS PERBEDAAN KINERJA HARGA SAHAM JANGKA PANJANG DAN JANGKA PENDEK SETELAH PENAWARAN SAHAM PERDANA IPO DI PASAR MODAL INDONESIA. S1 thesis, Universitas Jambi.

Tujuan penelitian adalah melihat keuntungan saham perusahaan yang melakukan initial public offering di pasar modal Indonesia pada tahun 2018.

Total 37 perusahaan yang melakukan IPO di 2018 dan menjadi objek penelitian.

Hasil Penelitian adalah:

  1. Di hari pertama IPO, nilai rata - rata keuntungan investor yang membeli saham IPO adalah 38%, dengan rincian: 29 saham return positif dan 8 saham return negatif.
  2. Dalam waktu 3 bulan sejak IPO, nilai rata-rata abnormal return perusahaan yang melakukan IPO adalah 197%, dengan 14 perusahaan underperformed dan 23 perusahaan outperformed.
  3. Dalam waktu 24 bulan sejak IPO, nilai rata-rata abnormal return perusahaan yang melakukan IPO adalah 127%, dengan 16 perusahaan underperformed dan 21 perusahaan outperformed.

2. Meina Wulansari Yusniar (2016)

Penelitian Meina Wulansari Yusniar (2016) berjudul “Kinerja Harga Saham Jangka Pendek Dan Jangka Panjang Setelah Penawaran Saham Perdana (IPO)”. Jurnal Wawasan Manajemen, Vol. 4, Nomor 3, Oktober 2016

Tujuan penelitian adalah menganalisis kinerja saham melalui pengukuran hasil awal, abnormal return, mengungguli atau underperformed dalam jangka pendek (1 bulan dan 3 bulan) dan jangka panjang (24 bulan), dan uji perbedaan signifikansi kinerja saham dalam jangka pendek dengan jangka panjang. 

Total saham IPO yang diteliti 71 perusahaan yang melakukan Penawaran Umum Perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2010 - 2012.

Hasil Penelitian adalah:

  1. Kinerja saham IPO dalam jangka pendek (1 bulan, 3 bulan dan 6 bulan sejak IPO) menunjukkan kinerja outperformed (abnormal return positif dan wealth relative lebih dari 1).
  2. Kinerja saham jangka panjang (24 bulan sejak IPO) menunjukkan kinerja outperformed (abnormal return positif dan wealth relative lebih dari 1).
  3. Terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja saham periode jangka pendek (6 bulan) dengan kinerja saham periode jangka panjang (24 bulan) pada perusahaan yang Go Public di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2011.

3. Dinda Bertha Ivana (2021)

Penelitian DINDA BERTHA IVANA (2021) berjudul “Evaluasi Kinerja Jangka Panjang Perusahaan Pasca Pelaksanaan Initial Public Offering (IPO) Di Bursa Efek Indonesia”. Tesis, Magister Manajemen UGM, 2021

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengevaluasi kinerja jangka panjang perusahaan pasca pelaksanaan Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia, apakah mengalami fenomena underperformance atau outperformance. 

Hasil penelitian dengan menggunakan metode Buy and Hold Abnormal Return (BHAR) dan Wealth Relatives, menunjukkan bahwa dalam jangka panjang kinerja saham-saham perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2016 mengalami underperformance.

Underperformance artinya kenaikkan harga saham IPO (dihitung sejak awal pencatatan di bursa) dibawah kenaikkan harga indeks pasar.

4. Indriani Widiastuti (2019)

Penelitian Indriani Widiastuti, Kusdhianto Setiawan, Sivilekonom., Ph.D. (2019) berjudul “Analisis Kinerja Initial Public Offering (IPO) Anak Perusahaan BUMN pada Periode Tahun 2008-2018”. Tesis, Magister Manajemen UGM, 2019

Tujuan penelitian adalah melihat kinerja saham anak perusahaan BUMN ketika IPO dalam periode tahun 2008-2018.

Total saham  yang diteliti 11 anak perusahaan BUMN yang melakukan Penawaran Umum Perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2008 - 2018.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 7 dari 11 IPO anak perusahaan BUMN tahun 2008-2018 atau 63,6% mengalami underpricing, dan 4 IPO atau 36,4% mengalami overpricing.

Underpricing artinya bahwa di hari pertama pencatatan di pasar sekunder, harga penutupan lebih tinggi dari harga IPO. Dan sebaliknya untuk overpricing, harga saham turun dibawah harga IPO.

Underpricing menguntungkan para investor yang beli saham di pasar perdana. Sebaliknya, overpricing merugikan investor.

Rangkuman Hasil Penelitian Investasi Saham IPO:

NoPenelitiHasil Penelitian
1Vizna, Fadhilah (2021)Di hari pertama IPO, nilai rata - rata keuntungan investor yang membeli saham IPO adalah 38%, dengan rincian: 29 saham return positif dan 8 saham return negatif.
2Meina Wulansari Yusniar (2016)Kinerja saham IPO dalam jangka pendek (1 bulan, 3 bulan dan 6 bulan sejak IPO) menunjukkan kinerja outperformed (abnormal return positif dan wealth relative lebih dari 1). 
3.Dinda Bertha Ivana (2021)Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam jangka panjang kinerja saham-saham perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2016 mengalami fenomena underperformance.
4.Indriani Widiastuti (2019)Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 7 dari 11 IPO anak perusahaan BUMN tahun 2008-2018 atau 63,6% mengalami underpricing, dan 4 IPO atau 36,4% mengalami overpricing.

Apakah Untung atau Buntung Investasi Saham IPO

Melihat dari hasil penelitian yang ada, kita bisa lihat bahwa dalam jangka pendek, beli saham IPO akan menguntungkan karena harga di pasar sekunder secara rata - rata lebih tinggi dibandingkan harga IPO.

Hal ini diperkuat pula oleh banyak penelitian di Indonesia yang menemukan fenomena underpricing pada penawaran saham di pasar perdana, yaitu harga saham IPO lebih rendah dari harga saham saat penutupan di hari pertama pasar sekunder.

Underpricing menguntungkan investor karena bisa meraup keuntungan di hari pertama. Meskipun hal ini tidak bagus buat emiten karena itu artinya harga saham perdana belum optimal.

Terkait abnormal return, kinerja saham IPO dalam jangka pendek (sampai 6 bulan) menunjukkan abnormal return, yang artinya kenaikkan harga saham diatas indeks pasar. Namun, dari beberapa penelitian, menunjukkan bahwa dalam jangka panjang (24 bulan) abnormal return akan menurun dan bahkan mencapai underperformance.

Hati - Hati Baca Data Empiris

Meskipun kesimpulan bahwa beli saham IPO menguntungkan, namun kita perlu membaca data ini dengan hati - hati, karena beberapa alasan:

  • Data ini adalah data rata - rata. Jadi ada saham IPO yang mengikuti pola ini, tetapi ada juga yang tidak
  • Data empiris dibuat berdasarkan penelitian pada periode tertentu. Meskipun valid dalam rentang waktu penelitian, tetapi tidak menutup kemungkinan, dalam periode yang berbeda, hasilnya akan berbeda.

Beli saham IPO atau tidak, kembali lagi, tidak sekedar hanya melihat potensi keuntungan. Kita perlu mempertimbangkan strategi portofolio management masing- masing.

Cari dan Bandingkan Sekuritas Broker Saham Terbaik !

Cari dan Bandingkan Sekuritas Broker Saham Terbaik !

Bagikan Melalui

Daftar Isi

Berlangganan Duwitmu

Komentar (0 Komentar)

Tulis Komentar - Balasan untuk Tito Shadam

Email Anda tidak akan di publish

Batalkan Membalas

Captcha Wajib Diisi

Artikel Terkait