Silakan masukkan kata kunci pada kolom pencarian

Persamaan Perbedaan Tabungan, Deposito, Obligasi, Saham

Daftar Isi

Persamaan Perbedaan Tabungan, Deposito, Obligasi, Saham

Tabungan, deposito, obligasi, saham adalah instrumen investasi yang kerap kita dengar. Tapi, apa perbedaan dan persamaan Tabungan, Deposito, Obligasi, Saham untuk mencapai tujuan keuangan.

Investasi wajib dilakukan untuk mencapai tujuan keuangan. Dana pensiun, dana pendidikan, dana darurat adalah berbagai tujuan yang hendak dicapai dengan melakukan investasi.

Terdapat berbagai pilihan instrumen keuangan di pasar. Penting mengetahui fitur dan manfaat instrumen - instrumen tersebut.

Berikut ini adalah persamaan dan perbedaan Tabungan, Deposito, Obligasi, Saham, yaitu:
 

Tabungan

Bank memiliki produk tabungan rencana atau tabungan berjangka. Jenis tabungan dengan tingkat keamanan yang sama (dijamin LPS), tapi menawarkan bunga lebih tinggi dari bunga tabungan reguler.

Dalam tabungan rencana, nasabah membuat kontrak dengan bank untuk menyetor secara rutin dalam jumlah tertentu selama masa yang disepakati.

Jika selama masa kontrak menabung, nasabah meninggal dunia, bank akan melanjutkan menyetor sampai masa kontrak berakhir. Ini karena ada proteksi asuransi yang diberikan secara gratis oleh bank.

Namun, dalam tabungan rencana, nasabah tidak bisa mencairkan setiap saat, tetapi harus menyelesaikan periode rencana tabungan yang sudah ditetapkan di awal saat kontrak dengan bank.

Jika tabungan rencana di break sebelum jatuh tempo, nasabah harus membayar denda.

Berapa bunga tabungan rencana?

Masing - masing bank memiliki produk tabungan rencana yang berbeda - beda, dengan ketentuan yang juga beragam. Perlu dicek di masing - masing bank, bagaimana skema tabungan rencana yang ada.

Saya cek ke beberapa bank, bunga tabungan rencana sekitar 3% sd 4% setahun. Hanya sedikit diatas deposito, bahkan tidak sedikit yang sama bunganya.

Namun, tabungan rencana punya beberapa keunggulan dibandingkan deposito yaitu:

  • Fitur menabung rutin. Ini membantu orang yang masih belum punya uang banyak untuk mulai menabung, bisa mulai dari kecil. Deposito tidak punya fitur ini.
  • Asuransi gratis. Fitur asuransi gratis yang memproteksi jika pemilik tabungan meninggal dunia, tidak ada di deposito.
     

Deposito

Deposito adalah simpanan di bank selama jangka waktu tertentu untuk memperoleh bunga sebagai imbal hasil.

Bedanya dengan tabungan, deposito tidak bisa ditarik setiap saat. Ada jangka waktu penempatan uang di deposito yang disepakati deposan dengan bank sejak awal.

Itu sebabnya deposito kerap disebut juga sebagai Deposito Berjangka.

Fitur Deposito Berjangka yang umum, antara lain adalah:

  • Jangka waktu deposito mulai 1 bulan sampai paling lama 12 bulan
  • Bunga saat ini di 2.5% sampai 3% setahun
  • Pajak Bunga deposito dikenakan 20%
  • Mata uang deposito bisa Rupiah atau valuta asing

Meskipun sekarang sudah banyak alternatif investasi, misalnya Reksadana Pasar Uang atau P2P, namun deposito tetap menjadi pilihan mayoritas masyarakat.

Riset Manulife Investasi selama beberapa tahun menunjukkan bahwa masyarakat di Indonesia masih memilih deposito sebagai instrumen utama untuk menempatkan uang mereka.

Dugaan saya karena beberapa alasan:

  1. Literasi keuangan masyarakat di Indonesia masih rendah, hasil survei OJK soal literasi, sehingga masyarakat tidak banyak yang berani mengambil instrumen investasi di luar yang sudah dikenal selama ini.
  2. Maraknya kasus investasi bodong dalam beberapa tahun ini membuat orang khawatir mencoba investasi yang baru, lebih memilih instrumen ‘aman’ yang mereka sudah kenal dan percaya, meskipun bunga yang ditawarkan relatif rendah.
  3. Masyarakat memang membutuhkan deposito untuk menyimpan dana guna kebutuhan jangka pendek yang menuntut instrumen super aman dibandingkan return.
     

Obligasi

Selain saham, Obligasi adalah salah satu instrumen pasar modal. 

Bagi investor yang kurang menyukai resiko, obligasi bisa menjadi salah satu jenis aset yang cukup menarik, karena obligasi mampu memberikan pendapatan tetap bagi investor.  

Obligasi adalah instrumen dimana pihak yang menerbitkan menyatakan hutang kepada pemegang obligasi. 

Dari sisi penerbit, obligasi menjanjikan kepada investor untuk membayar pokok hutang pada saat jatuh tempo dan bunga secara rutin sebagai imbal hasil. 

Dari sisi investor, obligasi adalah investasi yang berbeda dari saham. Saham menyatakan klaim kepemilikan pada suatu perusahaan, sedangkan obligasi menyatakan klaim kreditur pada suatu perusahaaan. 

Pembayaran pokok dan bunga kepada investor pemegang obligasi telah ditetapkan ketika obligasi diterbitkan. Itu sebabnya obligasi disebut sebagai pendapatan tetap karena jadwal penerimaan kas sudah ditentukan sejak awal.

Sedangkan jumlah dan waktu pembayaran dividen kepada pemegang saham tidak pasti dan dapat berubah - ubah sepanjang tahun. Bahkan perusahaan bisa memutuskan tidak membagi dividen ke pemegang saham.

Obligasi memiliki masa jatuh tempo yang menjadi batas waktu kepemilikan investor. Saham tidak memiliki masa jatuh tempo, sehingga pemegang saham bisa memilikinya selamanya.

Satu hal yang membuat obligasi sangat menarik adalah return yang ditawarkan. Contohnya, Pemerintah Indonesia memberikan return obligasi pemerintah dalam bentuk bunga yang dibayarkan rutin setiap bulan.

Bunga obligasi ini bisa berbeda - beda tergantung seri obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah.

Berbagai bunga ORI yang pernah diterbitkan Pemerintah Indonesia, saya susun dalam tabel berikut:

ObligasiBunga 
(tahun)
ORI00112,05%
ORI0029,28%
ORI0039,40%
ORI0049,50%
ORI00511,45%
ORI0069,35%
ORI0077,95%
ORI0087,30%
ORI0096,25%
ORI0108,50%
ORI0118,50%
ORI0129,00%
ORI0136,60%
ORI0145,85%
ORI0158,25%
ORI0166,80%


Kita bisa melihat bahwa kupon di setiap seri ORI bisa berbeda beda.

Yang jelas kupon ORI lebih tinggi dari bunga deposito.

Pajak yang dikenakan atas kupon ORI adalah Pajak Penghasilan (PPh) final sebesar 15%. 

Tingkat pajak ini lebih rendah dibandingkan dengan pajak atas deposito sebesar 20%

Setiap bulan, Pemerintah Republik Indonesia akan membayar bunga kepada pemegang ORI.

Jadi, ORI bisa menjadi sumber passive income. Paling tidak 3 tahun atau lebih, tergantung tenor obligasi pemerintah.

Berikut ini kemungkinan resiko dari obligasi:

  • Risiko Gagal Bayar. Risiko dimana investor tidak dapat memperoleh pembayaran dana yang dijanjikan (baik pokok maupun kupon) dari penerbit pada saat jatuh tempo.
  • Risiko pasar (market risk). Potensi kerugian (capital loss) dari turunnya harga obligasi akibat faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keseluruhan dari penerbit maupun pasar keuangan, diantaranya perubahan suku bunga, perubahan fundamental ekonomi dan kondisi politik yang tidak stabil.
  • Risiko Likuiditas (liquidity risk). Risiko investor tidak dapat menjual produk investasi yang dimilikinya apabila sebelum jatuh tempo membutuhkan dana tunai.
     

Saham

Saham adalah bukti kepemilikan seseorang atas suatu perusahaan. Nilai saham ditentukan oleh kinerja perusahaan tersebut dalam menghasilkan keuntungan, cash flow dan pertumbuhan usaha.

Karena menghasilkan cash-flow, nilai saham bisa di valuasi secara fundamental berdasarkan laporan keuangan. Ditentukan berapa nilai wajar (fair value) saham tersebut.

Itu sebabnya Saham memiliki underlying yang bisa dianalisa dan dilakukan valuasi.

Harga saham yang lebih rendah dari perhitungan fair-value selayaknya dibeli, sebaliknya harga saham yang lebih tinggi sebaiknya dijual atau dihindari.

Keuntungan dari investasi saham diperoleh dari dua sumber utama, yaitu:

  • Kenaikan harga saham (capital gain). Harga saham setiap saat mengalami perubahan dan investor yang membeli bisa mendapatkan keuntungan dari harga saham yang meningkat dibandingkan harga beli.
  • Pembayaran Dividen. Perusahaan bisa membayarkan dividen tunai kepada pemegang saham.

Kerugian dalam investasi saham bisa terjadi karena:

  • Penurunan harga saham (capital loss). Harga saham menurun yang membuat nilai beli saham lebih tinggi dibandingkan harga saham saat ini.
  • Delisting. Perusahaan dihapus atau delist dari Bursa saham sehingga sahamnya tidak bisa ditransaksikan lagi di bursa. Alasan utama delist adalah kinerja yang sangat buruk yang menyebabkan perusahaan tidak memenuhi kriteria bursa untuk tercatat di bursa saham.

Jual beli saham dilakukan di bursa saham melalui broker saham.

Calon investor saham harus membuka rekening di broker atau perusahaan sekuritas. Setelah itu, untuk melakukan jual atau beli saham, investor harus membuat order ke broker.

Broker yang akan melakukan jual beli saham di bursa dengan broker - broker lain. Pada dasarnya, pihak yang bisa melakukan transaksi di bursa hanyalah broker.

Keamanan transaksi di Bursa dilindungi dengan berbagai cara, yaitu:

  • Rekening Dana Nasabah. Setiap nasabah memiliki Rekening Dana Nasabah atas nama nasabah, yang terpisah dari rekening broker. Tujuannya mengamankan dana nasabah dari broker.
  • Modal Minimum. Broker harus memenuhi minimum modal tertentu setiap hari untuk memastikan bahwa mereka punya likuiditas untuk melakukan transaksi atas nama nasabah
  • Investor Protection Fund. Bursa menyediakan dana khusus untuk melindungi investor jika broker saham melakukan fraud atau penyalahgunaan.
     

Persamaan Tabungan, Deposito, Obligasi, Saham

Tabungan, deposito, obligasi, dan saham memiliki satu kesamaan, yaitu instrumen investasi yang memberikan imbal hasil.

Tabungan, deposito dan obligasi memberikan return dalam bentuk bunga yang jumlahnya tetap. Saham memberikan return yang tidak tetap dalam bentuk capital gain dan dividen.

Persamaan lain, selain soal imbal hasil, adalah tabungan, deposito, obligasi, saham punya resiko. Artinya, ada kemungkinan hasilnya tidak sesuai yang diharapkan.

Mungkin ada yang bertanya, bukankah tabungan dan deposito dijamin LPS ? Jadi, bunganya pasti diterima.

Betul, bunganya tabungan dan deposito dijamin oleh LPS, tetapi tetap ada resiko, yaitu karena bunga deposito dan tabungan itu rendah maka resikonya adalah nilainya dibawah inflasi. Akibatnya, bunga riil nya (setelah dikurangi inflasi) bisa minus.
 

Perbedaan Tabungan, Deposito, Obligasi, Saham

Berikut ini adalah perbedaan dari tabungan, deposito, obligasi, dan saham, yang penting untuk kita catat:
 

A. Return Investasi

Return paling tinggi ada di saham, lalu obligasi, terakhir deposito dan tabungan. Tinggi rendahnya return dipengaruhi oleh tingkat resiko.

Return deposito sekitar 3% setahun, sementara tabungan bisa lebih rendah lagi return-nya dan bahkan untuk produk tabungan tertentu tidak ada bunganya. Bunga tabungan tidak jarang tidak cukup untuk menutupi biaya admin.

Bunga obligasi lebih tinggi diatas deposito dan tabungan. Bisa di kisaran 5% sd 10% setahun untuk bunga obligasi.

Saham menawarkan return paling tinggi diantara lainnya. Return saham bisa mencapai 15% sd 20% setahun.
 

B. Resiko Investasi

Resiko paling rendah adalah tabungan dan deposito, kemudian obligasi dan resiko paling tinggi di saham.

Deposito dan tabungan karena dijamin oleh LPS maka resikonya sangat kecil atau boleh dibilang nihil.

Risiko obligasi lebih tinggi dari tabungan karena tidak ada penjaminan dalam obligasi. Jika penerbit obligasi gagal bayar maka uang yang ditanamkan di obligasi hilang.

Karena itu, resiko obligasi sangat ditentukan oleh siapa penerbit obligasi. Obligasi pemerintah punya resiko kecil karena pemerintah yang menerbitkan obligasi.

Saham, jelas, punya resiko paling tinggi diantara yang lain. Harga saham bisa naik turun dengan sangat tajam setiap harinya.

Resiko investasi di saham mengikuti risiko korporasi yang menjadi dasar kinerja harga saham di bursa efek. 
 

C. Likuiditas

Tabungan memiliki likuiditas paling tinggi. Bisa dicairkan kapan saja, tanpa kena denda.

Deposito bisa mudah juga dicairkan sebelum jatuh tempo, tetapi akan dikenakan denda jika di break sebelum akhir masanya.

Obligasi tidak mudah dicairkan sebelum jatuh tempo. Pencairan obligasi sebelum jatuh tempo hanya bisa dilakukan dengan menjual di pasar sekunder, yang harga jual belinya tergantung dinamika pasar.

Saham bisa dicairkan dengan mudah, dengan menjual di bursa efek. Namun, harga yang diperoleh tidak pasti, tergantung kondisi pasar.

Dalam kondisi saham tidak likuid di pasar, penjualan akan tidak mudah. Ada risiko saham tidak bisa dijual karena tidak ada yang beli di pasar.
 

D. Jaminan

Tabungan dan deposito, jelas, dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Apapun yang terjadi dengan bank, uang deposan aman. 

LPS menjamin simpanan nasabah bank yang berbentuk tabungan, deposito, giro, sertifikat deposito, dan bentuk lain yang dipersamakan dengan itu.

LPS menerapkan sejumlah ketentuan soal status deposito yang dijamin, yaitu:

  • Nilai simpanan yang dijamin oleh LPS paling tinggi sebesar Rp 2 milyar per nasabah per bank sejak tanggal 13 Oktober 2008.
  • Apabila seorang nasabah mempunyai beberapa rekening simpanan pada satu bank, maka untuk menghitung simpanan yang dijamin, saldo seluruh rekening tersebut dijumlahkan.
  • Nilai simpanan yang dijamin tersebut meliputi pokok ditambah bunga untuk bank konvensional, atau pokok ditambah bagi hasil yang telah menjadi hak nasabah untuk bank syariah.

Saham dan Obligasi tidak ada penjaminan, semua resiko ditanggung oleh pemilik dana. Meskipun kita bisa melakukan sejumlah hal untuk mengelola resikonya.
 

Mana Investasi Terbaik

Saya merekap persamaan dan perbedaan Tabungan, Deposito, Obligasi, Saham, sebagai berikut:

Tabungan, Deposito, Obligasi, Saham
Tabungan, Deposito, Obligasi, Saham


Hasilnya adalah:

  1. Return. Saham dan Obligasi jelas menawarkan return lebih tinggi dibandingkan Deposito dan Tabungan.
  2. Resiko. Resiko deposito dan tabungan sangat sangat rendah, sementara resiko obligasi menengah, resiko saham paling tinggi
  3. Likuiditas. Tabungan dan Deposito sangat likuid meskipun untuk pencairan deposito sebelum jatuh tempo dikenakan denda, sementara obligasi dan saham bisa dijual secara cepat meskipun harganya tidak bisa dijamin.

Dari perbandingan ini, kita bisa melihat bahwa Tabungan, Deposito, Obligasi, Saham punya keunggulan dan kelemahannya sendiri - sendiri.

Tidak ada yang lebih unggul.

Saham cocok untuk mereka yang menginginkan return tinggi dan siap menerima resikonya. Perlu melakukan diversifikasi portofolio dalam investasi saham untuk mengelola tingginya tingkat resiko.

Obligasi menawarkan tingkat return menengah dengan tingkat resiko sedang. Namun likuiditas obligasi tidak cukup baik.

Tabungan dan deposito cocok untuk mereka yang lebih mengutamakan keamanan dalam berinvestasi. Namun, deposito perlu dikombinasikan dengan instrumen lain dalam portfolio, agar return nya bisa optimal.

Dari sini, kita bisa lihat bahwa tidak ada instrumen investasi yang fit for all.

Tugas kita sebagai investor adalah memiliki tujuan keuangan yang jelas. Tujuan tersebut yang akan mengarahkan kita untuk memilih instrumen mana yang paling sesuai.

Sayangnya, banyak orang tidak punya tujuan keuangan saat memilih investasi. Contohnya, “tidak tahu tahu untuk apa melakukan investasi”.

Akibatnya, tanpa tujuan keuangan akan menghasilkan pilihan instrumen yang salah. Tidak bisa mewujudkan apa yang diinginkan.
 

Kesimpulan

Tabungan, Deposito, Obligasi, Saham, mana yang investasi terbaik?

Sesuaikan dengan tujuan keuangan yang hendak dicapai. Itulah pilihan terbaik.

Semoga Bermanfaat!

Baca juga - Cara Hapus dan Menutup Akun Gopay Mudah Cepat, Cara Top Up Akulaku dari Dana, Indomaret, Alfamart, Review Pospay Indonesia Kelebihan Kekurangan

Bagikan Melalui

Daftar Isi

Berlangganan Duwitmu

Artikel Terkait