6 Kesalahan Fatal Saat Membeli Asuransi Jiwa

  • July 14, 2015

Asuransi jiwa itu sangat penting dalam perencanaan keuangan keluarga. Tapi banyak yang salah saat membeli asuransi jiwa. Akibatnya, premi jadi mahal, manfaat tidak optimal. Apa kesalahan itu dan bagaimana menghindarinya ?

Di Indonesia, jumlah pemilik telpon selular jauh lebih banyak dibandingkan pemilik asuransi jiwa. Kurang 10% masyarakat punya asuransi dibandingkan 90% masyarakat yang memiliki mobile phone.

Proteksi keluarga tampaknya belum penting di mata banyak orang. Kalah penting dengan gadget.

Tertinggal jauh dibelakang negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia. Sangat wajar kualitas financial literacy Indonesia tidak jauh dari urutan buncit, menurut survei World Bank.

Asuransi jiwa adalah fondasi keuangan keluarga yang sehat.

Menurut data Biro Pusat Statistik, 9 dari 10 wanita di Indonesia menggantungkan hidup dari pasangannya. Jika terjadi musibah terhadap suami, apa yang akan terjadi terhadap istri, jika tidak ada proteksi asuransi.

Survei BPS tersebut menemukan bahwa 60% istri yang suaminya meninggal dunia harus menurunkan standard gaya hidup.

Banyak yang enggan beli asuransi jiwa karena menganggap asuransi itu mahal dan mubazir.

Ini persepsi yang totally wrong. Salah besar.

Asal memilih produk yang tepat, biaya atau premi asuransi jiwa tidak perlu mahal.

Sebagai contoh,  Anda membayar Rp 400 ribu sebulan sudah bisa mendapatkan manfaat proteksi yang lumayan. Kelas menengah di kota besar pengeluaran pulsanya telpon lebih dari Rp 400 ribu sebulan.

Yang penting, saat mencari asuransi jiwa terbaik, pilih yang paling sesuai dengan kebutuhan Anda.

Apa itu Asuransi Jiwa ?

Pengertian Asuransi Jiwa

Pengertian Asuransi Jiwa
Pengertian Asuransi Jiwa

Apa itu Asuransi ?

Asuransi memberikan proteksi atau perlindungan terhadap kemungkinan resiko yang kita hadapi.

Salah satunya adalah resiko musibah yang mungkin menimpa keluarga, yang kemudian di cover dengan asuransi jiwa.

Apa pengertian asuransi jiwa ?

Asuransi jiwa melakukan transfer resiko kematian dari yang kita hadapi ke perusahaan asuransi yang akan memberikan penggantian jika pihak yang diasuransikan mengalami musibah.

Manfaat asuransi jiwa adalah memberikan ketenangan menghadapi resiko dan ketidakpastian dalam hidup.

Secara lebih jelas, Undang Undang Perasuransian No 40 2014 menetapkan definisi asuransi sebagai berikut:

Asuransi adalah perjanjian antara dua pihak, yaitu perusahaan asuransi dan pemegang polis, yang menjadi dasar bagi penerimaan premi oleh perusahaan asuransi sebagai imbalan untuk:

a. memberikan penggantian kepada tertanggung atau pemegang polis karena kerugian, kerusakan, biaya yang timbul, kehilangan keuntungan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin diderita tertanggung atau pemegang polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti; atau

b. memberikan pembayaran yang didasarkan pada meninggalnya tertanggung atau pembayaran yang didasarkan pada hidupnya tertanggung dengan manfaat yang besarnya telah ditetapkan dan/atau didasarkan pada hasil pengelolaan dana.

Terkait asuransi jiwa, UU No 40 2014 tersebut menyebutkan pengertian asuransi jiwa sebagai berikut:

Usaha Asuransi Jiwa adalah usaha yang menyelenggarakan jasa penanggulangan risiko yang memberikan pembayaran kepada pemegang polis, tertanggung, atau pihak lain yang berhak dalam hal tertanggung meninggal dunia atau tetap hidup, atau pembayaran lain kepada pemegang polis, tertanggung, atau pihak lain yang berhak pada waktu tertentu yang diatur dalam perjanjian, yang besarnya telah ditetapkan dan/atau didasarkan pada hasil pengelolaan dana.

Sementara itu, ada pihak lain yang tidak kalah penting dalam perjanjian asuransi, yaitu: Pemegang Polis dan Tertanggung, yang menurut UU Perasuransian No 40 2014, didefinisikan sebagai berikut:

Pemegang Polis adalah Pihak yang mengikatkan diri . berdasarkan perjanjian dengan Perusahaan Asuransi, Perusahaan Asuransi Syariah, perusahaan reasuransi, atau perusahaan reasuransi syariah untuk mendapatkan pelindungan atau pengelolaan atas risiko bagi dirinya, tertanggung, atau peserta lain.

Tertanggung adalah Pihak yang menghadapi risiko sebagaimana diatur dalam perjanjian Asuransi atau perjanjian reasuransi.

Manfaat Asuransi Jiwa

Karena unit link adalah bagian dari asuransi jiwa, penting menjelaskan manfaat asuransi jiwa, yaitu sebagai berikut:

1 Proteksi Resiko Musibah

Melindungi tertanggung dari resiko musibah di masa depan, misalnya kepala keluarga meninggal dunia yang menyebabkan kehilangan mata pencarian.

Asuransi jiwa membayar uang pertanggungan jika musibah terjadi.

2 Memastikan Kelangsungan Hidup Keluarga

Memberikan kepastian dalam mempersiapkan masa depan Anda dan keluarga.

Pendidikan anak dan kehidupan keluarga secara finansial bisa terlindungi dari resiko kematian kepala keluarga dengan adanya proteksi asuransi jiwa.

3 Pengelolaan Keuangan

Asuransi jiwa adalah komponen penting dalam perencanaan keuangan keluarga yang sehat.

Rencana keuangan keluarga membutuhkan asuransi untuk memberikan proteksi atas kondisi keuangan keluarga.

4 Jenis Proteksi Sesuai Kebutuhan

Produk asuransi jiwa sudah tumbuh dan berkembang dengan menawarkan berbagai inovasi produk yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Ada berbagai produk asuransi jiwa, misalnya kematian, kecelakaan, kesehatan, penyakit kritis dan lain-lainnya, yang bisa mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang beragam.

Dari manfaat asuransi jiwa diatas, Anda bisa melihat bahwa fungsi asuransi jiwa penting dalam keluarga.

Jenis Asuransi Jiwa

Meskipun tujuan asuransi jiwa cukup jelas, yaitu memberikan proteksi perlindungan atas resiko kematian, tetapi dalam prakteknya, banyak jenis produk asuransi jiwa yang ditawarkan oleh perusahaan asuransi ke masyarakat.

Apa jenis asuransi jiwa ?

  • Asuransi Jiwa Term Life (Asuransi Jiwa Murni)
  • Asuransi Jiwa Seumur Hidup (Whole Life)
  • Asuransi Jiwa dengan Investasi (Unit Link)

Mari kita bahas masing – masing jenis asuransi jiwa tersebut.

#1 Asuransi Jiwa Term Life

Apa itu Asuransi Jiwa Term Life (Asuransi Jiwa Murni) ?

Asuransi jiwa term life memberikan perlindungan jiwa untuk jangka waktu tertentu dengan manfaat sebagai berikut:

  • Manfaat meninggal, 100% dari uang pertanggungan
  • Manfaat kecelakaan, 200% dari uang pertanggungan

Asuransi ini disebut berjangka karena hanya menanggung sampai usia tertentu, biasanya 75 tahun, dan yang paling penting asuransi term life adalah pembayaran premi hangus jika tidak ada klaim.

Namun, ini yang jarang diperhatikan, bahwa meskipun preminya hangus tetapi uang premi asuransi jiwa term life paling murah dengan manfaat uang pertanggungan paling besar.

#2 Asuransi Jiwa Seumur Hidup (Whole Life)

Apa itu asuransi jiwa seumur hidup whole life ?

Asuransi jiwa ini memberikan perlindungan jiwa seumur hidup, dengan manfaat sebagai berikut:

  • Jaminan Perlindungan Seumur Hidup, Hingga Tertanggung usia 99 tahun.
  • Jaminan Nilai Tunai, Nilai Tunai tidak dipengaruhi fluktuasi pasar.
  • Jaminan Besaran Premi Dasar Tetap, Selama Masa Pembayaran Premi, dengan pilihan Masa Pembayaran bervariasi, antara 5/10/20 tahun.

Asuransi whole life ini memberikan ketenangan dalam hal panjangnya proteksi dan terdapat uang yang bisa diambil setelah jangka waktu tertentu.

Hanya saja, masalahnya adalah (1) perlukah proteksi asuransi jiwa sampai usia 99 tahun karena menurut saya setelah anak atau keluarga sudah dewasa dan bisa mencari nafkah sendiri, proteksi asuransi jiwa tidak diperlukan lagi; (2) premi asuransi whole life cukup mahal.

#3 Asuransi Jiwa dengan Investasi (Unit Link)

Apa itu asuransi jiwa unit link ?

Asuransi jiwa unit link memberikan perlindungan maksimal disertai potensi nilai investasi.

Singkatnya, Anda membayar premi asuransi yang dialokasikan untuk beli asuransi dan untuk investasi.

Keuntungan asuransi unit link adalah Anda bisa memiliki proteksi asuransi jiwa sekaligus investasi dengan cara yang mudah, tidak perlu repot mengurus investasi setiap bulannya.

Ada 3 manfaat utama asuransi jiwa unit link, yaitu:

  1. Manfaat Investasi: Saldo Nilai Investasi yang ada dalam Polis ini akan perusahaan asuransi bayarkan dalam hal: (a) Anda melakukan penarikan sebagian atau keseluruhan atas Polis ini; atau (b) Polis Anda batal, di mana masih ada Nilai Investasi.
  2. Manfaat Meninggal Dunia (Manfaat Asuransi) Apabila dalam Masa Asuransi Tertanggung meninggal dunia, maka Kami akan membayarkan manfaat Uang Pertanggungan ditambah dengan seluruh saldo Nilai Investasi yang ada pada Polis ini yang dihitung berdasarkan Harga Beli Unit pada saat klaim disetujui.
  3. Manfaat Akhir Kontrak (Maturity), Apabila Tertanggung hidup sampai akhir Masa Asuransi, maka Kami akan membayar manfaat Investasi berupa seluruh saldo Nilai Investasi pada tanggal berakhirnya Masa Asuransi apabila ada.

Terkait manfaat investasi, hasil return investasi (dari alokasi pembayaran premi) memberikan manfaat untuk membayar premi asuransi, sehingga itu sebabnya dalam asuransi unit link pembayaran premi biasanya berhenti setelah beberapa waktu, misalnya 10 tahun, sementara proteksi masih terus berjalan.

Namun, ini yang perlu diperhatikan, karena asuransi di linked ke investasi maka resiko investasi ikut berimbas ke asuransi, khususnya pembayaran premi.

Dalam situasi, kinerja investasi anjlok, yang mana mungkin sekali terjadi, Anda harus membayar premi tambahan (to-up) diluar premi normal dan masa pembayaran premi yang seharusnya berhenti, misalnya, di tahun ke-10 akan masih terus Anda bayar supaya asuransi jiwa tetap efektif (jika tidak dibayar proteksi asuransi jiwa berhenti).

Dalam polis , perusahaan asuransi menyebutkan dua resiko asuransi jiwa unit link, yaitu:

  • Tingkat Return Investasi yang tidak dijamin. Produk ini memiliki risiko investasi. Nilai unit bervariasi, tergantung pada dana investasi yang Anda pilih. Tingkat pengembaliannya tidak dijamin. Hasil investasi masa lalu tidak bisa digunakan sebagai indikasi untuk tingkat pengembalian di masa yang akan datang.
  • Nilai Unit tidak mencukupi untuk membayar biaya asuransi. Biaya Asuransi semakin meningkat seiring usia Anda, sehingga semakin besar pula biaya Asuransi yang dikenakan yang berimbas kepada nilai unit. Produk ini adalah produk asuransi jangka panjang. Dengan pembayaran premi yang berkelanjutan akan mencegah kemungkinan tidak cukupnya nilai unit untuk membayar biaya asuransi

Kesalahan Beli Asuransi Jiwa

Apa 6 kesalahan ketika membeli asuransi jiwa?

  1. Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa Terlalu Kecil
  2. Fokusnya Investasi, Bukan Proteksi Jiwa
  3. Tidak Semua Butuh Asuransi Jiwa Saat Ini
  4. Salah Tertanggung di Polis 
  5. Belum Perlu Unit Link
  6. Membeli Asuransi Tambahan yang Tidak Dipahami

Mari kita bahas satu persatu kesalahan dalam beli asuransi jiwa tersebut.

#1 Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa Terlalu Kecil

Berapa uang pertanggungan (UP) asuransi jiwa Anda? Anda ingat ?

Banyak yang tidak ingat atau bahkan tidak tahu. Padahal UP sangat penting.

UP adalah alasan beli asuransi jiwa karena itu adalah manfaat yang dibayarkan perusahaan asuransi jika tertanggung (misal suami atau istri pencari nafkah) meninggal dunia.

That’s the reason, you’re buying insurance.

Masalahnya, banyak yang beranggapan bahwa UP asuransi jiwa yang mereka beli sudah besar, walaupun kenyataannya tidak.

Misalnya uang pertanggungan Rp 200 juta. Uang itu menurut Anda cukup banyak saat ini karena uang sebesar itu tidak ada di tabungan Anda sekarang.

Tapi,kenyataannya jumlah 200 juta itu kecil untuk sebuah proteksi asuransi jiwa. Kenapa?

  • andai biaya hidup keluarga Anda sekarang Rp 10 juta per bulan, artinya uang pertanggungan itu hanya mencukupi buat keluarga yang ditinggalkan untuk bertahan hidup kurang dari 2 tahun.
  • setiap tahun biaya hidup naik mengikuti inflasi yang 6 – 7%, sehingga uang pertanggungan yang nilainya Rp 200 juta, dalam 2 tahun nilai riilnya atau daya belinya turun menjadi Rp 178 juta karena harga barang yang naik. Semakin bertambah tahun, daya beli uang pertanggungan makin menurun.

Oleh karena itu nilai pertanggungan UP amat penting. Nilainya harus memadai.

Cara menghitungnya mudah.

Estimasinya adalah nilai UP dikali 1% sama dengan biaya hidup per bulan. Jadi, jika saat ini biaya hidup 10 juta sebulan, UP minimum adalah Rp 1 M.

Nilai UP harus terus dievaluasi agar sesuai dengan kenaikkan biaya hidup dan inflasi harga.

#2 Fokus Investasi, Bukan Proteksi Jiwa

Cukup sering saya melihat orang punya asuransi jiwa, tapi fokusnya pada nilai investasinya, bukan pada proteksinya.

“Berapa uang yang saya terima jika tidak klaim“, adalah pertanyaan yang kerap muncul, yang sebenarnya menunjukkan fokus pada investasi.

Besarnya nilai proteksi uang pertanggungan tidak terlalu digubris. Apakah UP akan cukup atau tidak untuk melindungi keluarga.

Memang betul bahwa nilai investasi akan ditambahkan ke uang pertanggungan jika tertanggung meninggal dunia.

Tapi terkait nilai investasi, kita harus ingat bahwa

  • Kinerja investasi itu tidak pasti, berfluktuasi tergantung kondisi pasar dan instrumen yang dipilih.
  • Dalam asuransi jiwa unit link, nilai investasi banyak dipotong untuk membayar biaya asuransi. Apalagi, jika Anda memilih pembayaran pendek hanya 10 tahun (dikenal istilah ‘cuti premi’), maka nilai investasi Anda akan dipotong untuk membayar biaya asuransi selama Anda cuti premi. Dengan begitu, nilai investasi jadi makin kecil karena banyak potongannya.

Jadi, walaupun ada nilai investasi yang bisa menambah uang pertanggungan, jumlahnya tidak pasti. Jangan mengandalkan hasil investasi untuk proteksi asuransi jiwa.

Anda harus fokus pada nilai UP dalam asuransi jiwa. Karena UP dijamin oleh perusahaan asuransi akan dibayarkan ketika tertanggung mengalami musibah.

Anda wajib memastikan bawah nilai uang pertanggungan cukup besar untuk melindungi keluarga.

#3 Tidak Semua Butuh Asuransi Jiwa Saat Ini

Kita pahami dulu tujuan membeli asuransi jiwa, yaitu memberikan manfaat (uang pertanggungan ) kepada ahli waris jika tertanggung utama meninggal dunia.

Artinya, ada orang yang hidupnya tergantung pada Anda secara keuangan, yang jika Anda meninggal dunia, mereka kehilangan sumber penghasilan, sehingga dibutuhkan proteksi keuangan dari asuransi jiwa.

Dengan kata lain, kalau belum ada orang yang hidupnya tergantung pada Anda secara finansial, no point punya asuransi. Karena jika tertanggung mengalami musibah meninggal tidak ada keluarga atau orang yang sumber penghasilannya terganggu.

Siapa contohnya mereka yang belum butuh asuransi ?

Fresh graduate yang baru masuk kerja, belum punya tanggungan. Lajang yang masih hidup sendiri dan tidak ada tanggungan.

Buat saya, jika belum perlu, kenapa harus beli sekarang. Eman – eman uangnya.

Lebih baik uang untuk bayar premi asuransi di re-alokasikan ke hal lain yang  lebih penting. Salah satunya adalah memiliki Dana Pensiun.

Sudah punya tanggungan atau belum, it doesn’t matter, Anda pasti membutuhkan uang untuk pensiun. Itu kebutuhan primer kita semua.

“Ah, nanti saja dana pensiun, masih lama cuy…”.

Menurut survei Manulife Investor Sentiment Index, jumlah masyarakat Indonesia yang memiliki dana pensiun masih amat minim.

Kebanyakan belum punya, atau kalaupun sudah, mengandalkan pensiun dari tempat bekerja yang jumlahnya tidak memadai dibandingkan kebutuhan biaya hidup saat tua nanti.

Karena tidak punya dana pensiun, masih menurut survei, masyarakat mengandalkan anak saat pensiun. “Banyak anak, banyak rejeki”.

#4 Salah Tertanggung di Polis 

Dalam polis asuransi jiwa, tertanggung adalah pihak, yang jika dia meninggal dunia, maka perusahaan asuransi akan membayar uang pertanggungan.

Penetapan tertanggung seringkali salah.

Misalnya, anak ditetapkan sebagai tertanggung; istri yang tidak bekerja sebagai tertanggung.

Baik anak maupun istri yang tidak bekerja tidak memiliki risiko keuangan buat keluarga karena jika mereka mengalami musibah tidak ada sumber penghasilan yang hilang. Karena mereka tidak memberikan penghasilan di keluarga.

Tertanggung adalah pihak yang merupakan sumber penghasilan buat keluarga. Bisa suami bisa istri, selama mereka memberikan penghasilan.

Idealnya punya dua asuransi jiwa untuk suami maupun untuk istri yang sama – sama bekerja.

Jika gaji istri lebih besar, beliau yang seharusnya lebih dulu punya asuransi. Bukan suami.

Pilih yang penghasilannya paling besar karena dialah yang punya risiko keuangan paling besar.

#5 Belum Perlu Unit Link

Apakah saya menentang unit link? Sama sekali tidak.

Unit – Link adalah salah satu produk yang memiliki manfaat bagi masyarakat.

Tapi, berdasarkan obervasi termasuk memperhatikan pertanyaan serta komentar di blog, saya menemukan banyak orang yang punya asuransi plus investasi, yaitu unit-link, walaupun mereka sebenarnya belum membutuhkan jenis asuransi ini.

Kenapa orang ini belum membutuhkan Unit Link? Ada dua kondisi.

Pertama, mereka sudah aktif berinvestasi, misalnya emas, reksadana atau properti. Mereka akan lebih efisien (lebih murah) membeli investasi langsung ketimbang lewat perantara.

Dalam unit – link, investasi dilakukan lewat perantara, yaitu perusahaan asuransi, yang implikasinya ada biaya tambahan untuk jasa perantara tersebut.

Ambil contoh, biaya top-up.

Di unit link, secara umum, top up dikenakan biaya 5%, kapan pun melakukannya. Artinya menempatkan 1 juta rupiah, yang akan benar – benar diinvestasikan hanya Rp 950 ribu, karena rp 50 ribu disetor ke asuransi sebagai biaya top up.

Biaya top up gratis jika melakukan investasi langsung (tanpa via asuransi), misalnya melalui penjualan Reksadana Online.

Misalnya di IPOTFUND, sebuah supermarket Reksadana Online, biaya top up itu free. Nasabah bisa jual beli Reksadana dengan mudah dan tanpa dipungut biaya untuk setiap transaksinya.

Karena itu, saya menyarankan bagi mereka yang sudah punya investasi lebih baik lanjutkan investasinya. Daripada ambil via perantara, ada tambahan biaya yang akan mengurangi dana investasi Anda.

Bagaimana jika butuh asuransi ? Bukankah sangat convenient punya produk asuransi dan investasi.

Jika sudah ada investasi, sementara hanya butuh asuransi, Anda bisa beli asuransi murni yang tidak ada embel-embel investasinya.

Premi asuransi murni (term life) lebih murah dengan nilai pertanggungan yang tinggi. Anda akan mendapatkan manfaat  yang lebih optimal.

Kedua, anak muda masih single (tidak ada tanggungan keluarga atau orang tua) yang sudah punya asuransi jiwa unit-link dengan premi bulanan cukup besar  (terhadap gaji mereka), padahal mereka ini sebenarnya belum butuh asuransi jiwa karena tidak ada keluarga yang secara finansial tergantung pada penghasilan mereka.

Saya tanya ke mereka, ”kenapa beli asuransi ?” mereka bilang, “kami butuh investasi. Asuransi ini hanya bonus”.

Jadi yang mereka butuhkan sebenarnya bukan asuransi tapi investasi.

Kalau belum perlu, kenapa harus beli.

Karena beli produk ini ada ongkosnya, ada premi yang harus dibayar tiap bulan.

Bukankah lebih baik, premi itu direalokasi ke investasi semua (100%) dibandingkan sebagian ke investasi dan sebagian ke asuransi.

Bayangkan, setiap bulan Anda membayar Rp 500 ribu untuk membayar premi asuransi plus investasi.

Uang rp 500 ribu itu sebagian digunakan untuk membayar premi asuransi dulu dan sisanya untuk investasi. Mana yang hasil investasinya lebih besar dibandingkan rp 500 ribu itu diinvestasikan sekaligus (tidak ada yang untuk bayar premi asuransi). Tentu saja, yang 100% investasi, tidak dibagi dengan bayar premi asuransi.

asuransi term life

#6 Membeli Asuransi Tambahan yang Tidak Dipahami

Rider atau asuransi tambahan banyak dibeli oleh nasabah.

Tapi saat ditanya, apakah paham manfaat rider tersebut, jawabannya tidak. Mengambil asuransi tambahan itu ada biayanya karena Anda membayar premi lebih mahal.

Jadi, sebaiknya Anda tahu sebelum memutuskan membelinya.

Saya temui beberapa hal, antara lain:

Pertama, mengambil rider asuransi kesehatan padahal dari kantor sudah ada fasilitas asuransi kesehatan swasta yang cukup bagus. Alasannya antara lain, bisa mendapatkan fresh money dari double-claim atau bisa naik ke kelas kamar yang lebih mahal ketika rawat inap.

Membeli rider ada cost-nya (tidak gratis), yaitu premi lebih mahal dan nilai pertanggungan asuransi jiwa lebih kecil (karena porsi premi terpotong untuk membayar biaya rider).

Jadi pastikan Anda butuh rider tersebut baru membelinya.

Jika ridernya belum dibutuhkan, sebaiknya tidak perlu diambil. Uangnya lebih baik dialokasikan untuk meningkatkan uang pertanggungan asuransi jiwa atau untuk menambah investasi diluar asuransi.

Kedua, mengambil rider asuransi penyakit kritis, dengan harapan bahwa ketika amit-amit terserang sakit serius biaya pengobatannya ditanggung oleh asuransi. Asumsi Anda yang beli asuransi penyakit kritis adalah jenis ini  sama dengan asuransi kesehatan yang memberikan penggantian biaya pengobatan.

Kenyataannya, asuransi penyakit kritis tidak bekerja seperti itu.

Asuransi penyakit kritis mengganti setelah tertanggung didiagnosa penyakit pada tingkat kritis. Definisi kritis bisa dilihat di polis.

Contohnya, gagal ginjal, yang baru diganti jika kedua ginjal bermasalah. Tumor atau kanker baru diganti jika sudah masuk tingkat ganas.

Jadi setelah parah atau kritis baru asuransi penyakit kritis membayar uang pertanggungan. Asuransi penyakit kritis tidak mengganti biaya pengobatan layaknya asuransi kesehatan.

Apakah masih perlu mengambil rider asuransi penyakit kritis? Mungkin ya. Mungkin juga tidak. Preminya jelas tidak murah.

Tapi yang paling penting, sebelum mengambil, pahami dulu dengan benar pengertian rider tersebut. Jangan sampai ketika kejadian baru kecewa karena melihat hal yang diganti oleh perusahaan asuransi tidak sesuai dengan ekspektasi saat membeli dulu.

Kesimpulan

Anda harus punya asuransi jiwa dulu, baru punya gadget atau smartphone terbaru. Karena asuransi adalah bukti Anda cinta keluarga. Gadget atau smartphone tidak.

Premi asuransi dipersepsikan mahal. Kenyataannya tidak. Mulai dengan Rp 400rb sebulan, Anda bisa mendapatkan proteksi asuransi jiwa dengan UP cukup tinggi.

Asalkan, Anda bisa memilih asuransi yang tepat. Salah satu caranya adalah tidak melakukan 5 kesalahan fatal yang saya uraikan diatas.

Segera beli asuransi untuk keamanan dan ketenangan keluarga Anda.

Baca lain penting adalah Beli Asuransi Jiwa Murah; Cek Berapa Premi Asuransi Jiwa; Perlu Tidak Asuransi Jiwa dan Investasi.

15 Responses

  1. Ujang Sirojudin

    Mas Rio..
    Artikelnya sangan bermanfaat, saya izin copas untuk di blog saya, saya akan cantumkan link blog mas Rio

    Reply
  2. anung

    terimakasih artikelnya sangat bermanfaat, mohon informasinya bagaimana untuk saya yang baru menikah, asuransi seperti apa yang harus kami pilih dan adakah asuransi yang bapak sarankan untuk kami?

    terimakasih

    Reply
  3. SHANDY

    selamat sore,

    terimakasih atas artikelnya yg sangat bermanfaat, ada beberapa pertayaan yg ingin saya tayakan :
    1.apa perusahaan asuransi yg recomended dan produkya untuk saya yg berumur 32th dengan anak umur 2th..
    2.maksudnya investasi emas itu dalam bentuk apa logam mulia atau emas perhiasaan
    …. mohon pencerahannya terimakasih

    Reply
    • admin

      Shandy,

      Kami kirim penawaran dana pendidikan via email. Untuk emas, sebaiknya untuk investasi adalah Logam Mulia.

      salam

      Reply
  4. Yunita

    Saya tertarik dgn tulisan y mz rio dari sini saya tau manfaat asuransi, saya terlanjur mengikutkan asuransi pendidikan n jiwa bwt anak saya yg skrg umur6 thn dgn ttl premi 10jt prthn,dl awal ikut msh umur 1thn.n saya menerima tawaran cuti premiKrn saya pkir ini menguntungkan ,sprt yg di tulis mz rio bahwa cuti premi merugi langkah apa yg hrs saya ambil skrg, trimakasih

    Reply
    • admin

      Yunita,

      Ada dua opsi: (1) melanjutkan asuransi yg sudah dibeli tapi jangan cuti premi (bayar terus) dengan risiko target dana pendidikan akan kurang; (2) berhenti asuransi dengan risiko rugi sekarang, mengganti dengan Reksadana, namun dalam jangka panjang dana pendidikan bisa lebih dicapai.

      salam

      Reply
  5. arieve ramdhanie

    Terima kasih atas pencerahnnya. sebelumnya saya adalah mahasiswa fresh graduate yang memang sekarang membutuhkan pekerjaan tp beberapa rekan saya sudah menawarkan kepada saya proteksi Jiwa. saya minta saran dan juga masukan untuk saya apakah investasi yang sesuai dengan kita yang masih fresh graduate…?

    Reply
    • admin

      arieve ramdhanie,

      Belum perlu ambil asuransi jiwa jika belum ada tanggungan atau keluarga. lebih baik uangnya ditabung atau investasi (yg tanpa asuransi) saja dahulu.

      salam

      Reply
  6. Dion Mahardika

    Dear Admin
    Saya sudah mendapatkan fasilitas BPJS dari perusahaan akan tetapi saya menginginkan untuk asuransi tambahan. Usia saya sekarang 29 tahun & belum menikah.
    Kira2 asuransi apa yang cocok untuk saya? dengan premi sekitar 250-400/bln.

    Terima kasih

    Reply
  7. widodo

    Siang..artikel sangat bagus..mau tanya jika keluarga saya ada 3.. anak umur 7..apakah perlu beli asuransi kesehata ..krn kita bekerja sendiri..tidak ada proteksi..sebaiknya ambil askes apa..skrg sudah autodebet schroder untuk pensiun dan dana pendidikan

    Reply
  8. budiman

    Hati-hati dengan asuransi jika MSIG S*narM*S, setelah menjadi nasabahnya selalu dikecewakan banyak aturan dirubah-rubah, mau klaim dipersulit, nilai investasinya ancur. ..agen2 nya hanya baik baik diawal setelah itu ga mau peduli.

    Reply
  9. Fattah Hasibuan

    Selamat siang ,
    Artikerlnya sangat baik, saya mau menanyakan kepada ADMIN. Saya baru mempunyai anak berumur 8 bulan dan istri saya tidak bekerja. Saya dan istri selalu berpikiran tentang kesehatan dan investasi , menurut Admin Asuransi apa yang cocok untuk keluarga saya ?
    tolong masukannya

    Terimasih sebelumnya

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.