Pinjaman Online, Investasi, Keuangan, Asuransi | Duwitmu

Apa Beda Saham vs Reksadana Saham, Mana Pilihan Terbaik

Dipublish oleh R Quiserto Desember 29, 2021

Daftar Isi

Reksadana Saham vs Saham

Perbedaan Reksadana saham vs saham terletak pada proses investasi, dimana pengelolaan Reksadana diserahkan kepada Manajer Investasi, sedangkan investasi saham langsung dikelola sendiri oleh investor. Namun, investor harus membayar management fee Reksadana dan portfolio investasi saham di Reksadana tidak bisa sefleksibel dikelola sendiri.

Meskipun sama – sama beli saham, namun melakukan investasi saham secara langsung dan lewat Reksadana punya sejumlah perbedaan yang mendasar. Apa bedanya ?

1. Reksadana Saham Dikelola Manajer Investasi

Investor yang memilih Reksadana artinya menyerahkan keputusan investasi kepada Manajer Investasi. Manajer Investasi yang akan mengelola uang investor.

Dalam Reksadana Saham, Manajer Investasi akan menempatkan uang investor di saham. Saham dipilih sesuai dengan kebijakan dan strategi yang diuraikan oleh Manajer Investasi dalam Prospektus Reksadana.

Singkat kata, investor tidak menentukan jenis saham yang akan dibeli atau dijual. Semua keputusan ditangan Manajer Investasi.

Bahkan, proses jual beli saham ke sekuritas broker pun dilakukan oleh Manajer Investasi. Mereka yang akan mengurus dan mengelola portofolio saham.

Jual beli Reksadana Saham bisa dilakukan dua cara:

  1. Langsung ke Manajer Investasi terkait. Misalnya, melalui situs Mandiri Investasi, Syailendra Capital dll.
  2. Lewat pihak ke-3, yaitu agen penjual Reksadana, seperti Bareksa, Ipot dan lain- lain.

2. Saham Dikelola Sendiri, Beli Langsung di Bursa Efek

Investasi saham langsung artinya adalah you on your own. Investor mengelola semuanya sendiri.

Saham diperdagangkan di exchange atau bursa saham. Untuk itu, investor yang ingin beli saham harus ke perusahaan sekuritas dan membuka rekening.

Jadi, investor yang ingin membeli saham secara langsung perlu melakukan lewat bursa saham. Bukan ke Manajer Investasi.

Proses jual beli dan mengelola portofolio saham dilakukan oleh investor sendiri. 

Investor harus buka rekening di perusahaan sekuritas, lalu setelah itu menentukan saham mana yang ingin dibeli dan dijual.

Portofolio saham yang sudah dibeli harus dievaluasi dan di monitor sendiri. Dipastikan bahwa investasi saham bisa mencapai tujuan keuangan yang diinginkan.

3. Resiko Bid Ask Spread Saham.

Karena saham dibeli di bursa, investor akan menghadapi bid-ask spread. Perbedaan antara harga beli dan harga jual.

Bid-ask spread tergantung pada besar kecilnya volume perdagangan di bursa. Semakin besar volume perdagangan, semakin tipis spread tersebut.

Kenapa spread ini penting ?

Lebarnya spread akan merugikan investor. Yang beli akan beli kemahalan, yang jual akan jual kemurahan.

Resiko bid-ask spread di saham ini,  tidak dihadapi Reksadana Saham. Kenapa? Karena Reksadana Saham jual belinya langsung ke Manajer Investasi.

Manajer Investasi hanya punya satu patokan harga unit pada hari tersebut untuk jual beli Reksadana. Tidak ada harga beli dan harga jual yang berbeda di Manajer Investasi.

4. Likuiditas Reksadana Lebih Baik

Likuiditas Reksadana Saham sedikit lebih baik. Kenapa ?

Kita tinggal pergi ke Manajer Investasi yang mengelola Reksadana Saham untuk menjual unit. Secara regulasi OJK, dalam waktu 3 hari, uang dari Reksadana sudah harus cair masuk ke rekening investor.

Harga unitnya juga sudah pasti karena Manajer Investasi sudah menentukan berapa nilai unit hari itu berdasarkan perhitungan nilai pasar portofolio saat itu.

Bahkan, Manajer Investasi selalu punya cadangan kas untuk mengakomodasi penjualan unit dari investor. Cadangan kas ini penting agar pencairan dari investor selalu bisa dilayani.

Jadi, kepastian pencarian unit di Reksadana Saham tinggi. Uang sudah pasti masuk rekening.

Bagaimana jika punya saham langsung ?

Kita tahu bahwa jual beli saham dilakukan di bursa. Transaksi baru bisa terjadi kalau ada yang beli dan yang jual, tergantung supply and demand di bursa.

Apakah kita mungkin tidak bisa menjual/membeli saham? Bisa, kalau memang tidak ada yang mau membeli atau menjual.

Logikanya sama dengan kita saat menjual atau membeli saham. Bisa tidak beli atau jual kalau tidak ada volume perdagangan.

Jika kepepet ingin menjual, lalu tidak ada di harga yang diinginkan, pemilik saham mau tidak mau harus menurunkan harga jualnya. Dimana akibatnya bisa saja harga jualnya jadi tidak merefleksikan nilai portofolio yang ada saat itu.

5. Risiko Dikelola Manajer Investasi

Satu resiko di Reksadana saham adalah risiko Manajer Investasi dicabut izinnya, di suspend oleh OJK atau membubarkan diri. 

Dalam Reksadana Saham, kita berhubungan dengan Manajer Investasi untuk jual dan beli. Jadi, kalau MI-nya bermasalah, kita ikut kena masalah.

Pemilihan MI di Reksadana Saham menjadi faktor yang harus diperhitungkan dengan cermat. Salah – salah bisa kejebak dalam MI yang bermasalah.

Resiko ini tidak ada di beli saham langsung. Karena proses jual belinya tidak melibatkan Manajer Investasi.

6. Biaya Management Fee Manajer Investasi

Biaya melakukan transaksi Reksadana Saham sedikit lebih besar dibandingkan beli saham secara langsung.

Ada management fee yang harus dibayar ke Manajer Investasi. Ini fee jasa atas pengelolaan portofolio oleh MI.

Management fee tidak ada di beli saham langsung. Feenya hanya fee jual beli saham yang harus dibayar ke sekuritas tempat melakukan transaksi.

Singkat kata, investasi di Reksadana Saham akan meminta fee yang lebih besar karena adanya management fee ini.

7. Portfolio Reksadana

Portofolio di Reksadana Saham cenderung akan terfokus pada saham – saham blue-chip serta big cap. Manajer Investasi melakukan ini karena mereka berupaya mengikuti benchmark, yaitu IHSG atau Indeks lainnya.

Perlu kita tahu bahwa kinerja MI, antara lain, dievaluasi terhadap kinerja Indeks. Semakin lebih baik dari indeks yang jadi benchmark, prestasi MI akan semakin baik, dan sebaliknya.

Indeks tersebut isinya condong ke saham – saham blue-chip dan big cap. Bisa dicek komposisi indeks harga saham didorong oleh saham BCA, BRI, Telkom, Unilever dll

Karena itu, MI pasti akan memilih saham – saham blue-chip dalam portofolio Reksadana Saham, supaya kinerja mereka tidak lari jauh dari performance indeks yang menjadi benchmark-nya.

Kecil kemungkinan, MI akan beli saham – saham small cap, yang kontribusinya kecil di indeks, meskipun itu saham yang kinerja perusahaannya bagus.

Kita yang membeli saham secara langsung akan leluasa memilih saham. Tidak dibatasi oleh soal blue-chip atau tidak, big-cap vs small cap.

Bisa memilih saham yang memang kita yakini kinerjanya bagus dan harganya masih murah. Tidak harus saham blue-chip.

8. Diversifikasi Lebih Baik di Reksadana

Dalam investasi saham, diversifikasi penting untuk mengelola risiko.

Diversifikasi dilakukan dengan membeli berbagai saham. Portofolio akan terdiri dari beberapa saham yang tidak berhubungan.

Tujuannya supaya ketika satu saham harganya jatuh, masih ada saham lain yang harganya tidak jatuh.

Diversifikasi mudah dilakukan dalam Reksadana Saham. Karena Reksadana punya jumlah dana kelolaan yang besar.

Sementara, kita yang melakukan investasi saham langsung menghadapi tantangan dalam diversifikasi. Dana yang kita miliki, umumnya, terbatas dan tidak sebesar dana kelolaan Reksadana.

Mana Terbaik untuk Kita

Dari uraian diatas, kita bisa melihat bahwa tidak ada yang perfect di antara saham dan Reksadana Saham. Masing – masing punya plus dan minus sendiri – sendiri.

Semuanya kembali lagi ke tujuan keuangan yang kita hendak capai.

Saran saya, kalau memang masih baru di investasi saham, lebih baik masuk melalui Reksadana Saham. Serahkan ke ahlinya dulu, sembari belajar soal investasi saham.

Untuk yang tidak punya waktu melakukan analisa dan memonitor harga saham, Reksadana Saham cocok untuk Anda. Disamping itu, Reksadana Saham memberikan manfaat diversifikasi yang optimal.

Buat mereka yang sudah paham saham, investasi langsung akan lebih fleksibel dan optimal dibandingkan menggunakan Reksadana Saham. 

Paling tidak, jika bisa diurus sendiri tidak perlu membayar management fee ke Manajer Investasi.

Perbedaan yang penting dipahami oleh siapa saja yang ingin berinvestasi di saham.

Bagikan Melalui

Artikel Terkait

cara beli saham IPO di eIPO Stockbit Sekuritas

Cara Beli Saham IPO Secara Online di e-IPO dan ...

Januari 24, 2022 0 Komentar

Saat ini tren perdagangan saham tidak lagi menjadi privilege orang tertentu saja. Dengan kemudaha... Baca Lagi

Pinjam Meminjam Efek KPEI

Pinjam Meminjam Efek KPEI: Tujuan, Manfaat, Skema

Januari 22, 2022 0 Komentar

Layanan pinjam meminjam efek dapat menjadi alternatif untuk mendatangkan keuntungan ekstra dari i... Baca Lagi

Saham vs Properti, Apa Investasi Terbaik

Beda Saham vs Properti, Apa Investasi Menguntun...

Januari 21, 2022 0 Komentar

Saham dan properti adalah dua instrumen investasi yang populer di masyarakat. Masing – masi... Baca Lagi

Rasio Profitabilitas Laporan Keuangan

Pengertian Rasio Profitabilitas Laporan Keuanga...

Januari 19, 2022 0 Komentar

Rasio profitabilitas penting dalam analisa laporan keuangan. Bagaimana rumus formula menghitung r... Baca Lagi

Apa itu Free Cash Flow

Free Cash Flow: Manfaat, Formula Cara Menghitung

Januari 10, 2022 0 Komentar

Free Cash Flow adalah indikator penting untuk menganalisa laporan keuangan dan menilai kinerja pe... Baca Lagi

Emas vs Saham, Apa Investasi Terbaik

Beda Saham vs Emas, Apa Investasi Lebih Untung

Januari 6, 2022 0 Komentar

Jika harus memilih, apakah lebih baik investasi di emas atau saham ? Jawabannya, tergantung. Mari... Baca Lagi

Belum Ada Komentar

Tulis Komentar

Email Anda tidak akan di publish