Silakan masukkan kata kunci pada kolom pencarian

Analisa Teknikal Saham, Forex, Emas Terbaik untuk Pemula

Daftar Isi

Analisa Teknikal Saham, Forex, Emas Terbaik untuk Pemula

Analisa teknikal membantu investor menentukan kapan saat yang tepat untuk membeli atau menjual saham, forex atau emas. Bagaimana caranya melakukan analisa teknikal terbaik buat investor pemula ?

Kemajuan teknologi digital dan internet membuat semua orang sekarang bisa dengan mudah melakukan trading saham, forex atau emas, secara online. Platform online trading menjamur dan mudah diakses.

Kebanyakkan investornya adalah pemula dengan usia muda. Tidak hanya kesempatan luas terbuka, tetapi juga jika tidak hati - hati bisa menimbulkan kerugian.

Karena itu, investor pemula perlu belajar analisa saham, forex, emas. Salah satunya adalah analisa teknikal.

Apa itu Analisa Teknikal

Analisis teknikal adalah teknik analisa dalam dunia keuangan saham dan forex untuk memprediksi arah pergerakan harga dengan mempelajari rekam data yang lampau.

Analisis teknikal merupakan salah satu alat bantu penting dalam pengambilan keputusan transaksi di bursa berjangka. Mempelajari analisis teknikal sama dengan mempelajari histori pasar untuk mengantisipasi peluang yang akan datang.

Sejarah cenderung berulang, terjadi dalam pola yang sama. Analisis teknikal berusaha mengidentifikasi pola-pola berulang dan tren yang terjadi di pasar keuangan.

Adanya perulangan pola dan tren inilah yang digunakan untuk membantu pengambilan keputusan dan strategi trading.

Jenis Grafik

Terdapat 3 jenis grafik yang umum digunakan.

1. Line Chart

Grafik ini hanya menampilkan harga penutupan sehingga lebih mudah untuk dipahami, tetapi informasi yang disajikan sangat terbatas. 

Karena itu Line Chart kurang cocok digunakan untuk analisis.

2. Bar Chart

Grafik ini menampilkan informasi lebih lengkap seperti harga penutupan, harga pembukaan, harga tertinggi dan harga terendah yang terbentuk pada hari itu.

Walaupun menampilkan data yang lebih lengkap, namun bagi sebagian orang grafik ini kurang nyaman untuk dibaca.

3. Candlestick

Candlestick juga menampilkan informasi lebih lengkap seperti harga penutupan, harga pembukaan, harga tertinggi dan harga terendah yang terbentuk pada rentang periode tertentu.

Relatif lebih mudah dibaca karena dari segi tampilan memiliki warna yang menunjukkan harga naik (biasanya berwarna hijau atau putih) maupun harga turun (berwarna merah atau hitam).

Kita analisa candlestick lebih dalam. 

Candlestick

Candlestick mulai digunakan pada abad 18, oleh Munehisa Homma, di Jepang. Awalnya digunakan untuk pencatatan perdagangan beras.

Grafik ini kemudian diperkenalkan oleh Steve Nison dalam bukunya Japanese Candlestick Charting Technique dan hingga saat ini menjadi grafik analisis paling populer dalam trading.

A. Membaca Candlestick

Candlestick menunjukkan pergerakan harga dalam periode tertentu.

Grafik terdiri dari:

  • Tubuh candle yang menunjukkan harga pembukaan dan penutupan
  • Ekor candle yang menunjukkan harga tertinggi dan terendah

B. Warna Candlestick

Candle putih atau hijau menunjukkan harga penutupan lebih tinggi dari pembukaan. Artinya aksi beli jauh lebih besar daripada aksi jual sehingga terjadi kenaikan harga (Bullish).

Candle hitam atau merah menunjukkan harga penutupan lebih rendah dari harga pembukaan. Hal ini berarti terdapat tekanan jual yang cukup besar sehingga terjadi penurunan harga (Bearish).

Setiap warna dan bentuk tubuh Candlestick dapat menunjukkan kekuatan emosi atau psikologis para pelaku pasar. 

Istilah Trading: Bullish & Bearish

  • Bullish, berasal dari kata Bull yang berarti banteng atau kerbau. Istilah ini digunakan untuk mewakili kondisi harga yang sedang naik, seolah-olah seperti tandukan seekor banteng.
  • Bearish, menunjukkan kondisi penurunan harga. Beruang menyerang dengan cakarnya yang kuat menghunjam ke bawah.

Keduanya terlihat dalam grafik harga sebagai tren naik atau turun.

C. Time frame

Dalam menganalisis Candlestick, kita perlu ketahui rentang waktu yang ditunjukkannya atau time frame yang berlaku.

Sebatang Candlestick mewakili pergerakan harga dalam Time frame tertentu. Misalnya jika kita melihat di time frame 5 menit, maka sebuah Candlestick menunjukkan Open, Close, High dan Low dalam di rentang waktu tersebut. Setiap 5 menit Anda akan melihat terbentuknya 1 Candle baru.

Anda dapat mengatur pilihan Time frame sesuai kebutuhan, misalnya 1 menit (M1), 5 menit (M5), 15 menit (M15), 1 jam (H1), 1 hari (D1), atau bahkan rentang waktu yang lebih panjang, hingga 1 bulan.

Candlestick di tiap Time frame memberikan informasi yang berbeda untuk masing-masing rentang waktu terpilih.

Manakah time frame terbaik?

Pemilihan Time frame tergantung pada strategi trading yang diterapkan. Kita dapat mengambil keputusan hanya mengandalkan 1 Time frame atau beberapa Time frame berbeda, sesuai kebutuhan masing-masing Trader.

D. Bentuk Candlestick

Berbagai bentuk grafik candlestick untuk menentukan trend harga. Sebagai alat bantu Analisis diperlukan serangkaian Candlestick yang membentuk pola tertentu yang mengindikasikan telah terjadinya sebuah tren harga di Market.

1.Candlestick Panjang

Menunjukkan adanya daya beli yang kuat jika berwarna putih atau hijau, dan sebaliknya menunjukkan tekanan jual yang sangat kuat jika berwarna hitam atau merah.

2.Candlestick Pendek

Menunjukkan adanya ketidakpastian dalam market.

3. Doji

Menunjukkan tanda pembalikan arah. Double Doji sering menunjukkan tanda akan Break out namun masih membutuhkan konfirmasi.

4. Long Legged Doji

Menunjukan adanya tarik-menarik yang sama kuat antara daya beli dan daya jual.

5. Hammer & Hanging Man

Tubuh Candle yang pendek dengan ekor yang panjang menunjukan adanya kemungkinan reversal atau pembalikan arah. Hammer terjadi setelah tren menurun yang kuat.Jika muncul setelah tren menguat yang tajam maka disebut Hanging Man.

6. Inverted Hammer & Shooting Star

Inverted Hammer terjadi setelah tren menurun kuat, jika muncul setelah tren menguat yang tajam maka disebut Shooting Star. Keduanya merupakan tanda pembalikan arah.

Metode Analisa Teknikal 

Setelah tahu berbagai tools, kita sekarang masuk ke metodologi untuk melakukan analisa teknikal.

Pada dasarnya, dalam analisa teknikal, kita mencoba menentukan trend dari harga. Bisa itu harga saham, forex atau emas.

Beberapa metode yang umum digunakan dalam analisa teknikal adalah:

1. Trendline

Metode ini memetakan pola pergerakan harga dengan melihat tren dari pergerakan tersebut.

Ada 3 pola pergerakan, yaitu:

  • Up Trend. Harga menunjukkan tren naik, sehingga kita bisa pasang posisi beli (long) dan kemudian menutup posisi dengan jual (short)
  • Downtrend. Harga menunjukkan tren turun, sehingga kita bisa pasang posisi jual (shport) dan kemudian menutup dengan beli (long). Cara ini tidak tersedia di saham karena short selling dilarang di saham Indonesia, sementara di forex dan komoditi bisa dilakukan short-sell.
  • Sideways. Pola pergerakkan harga yang cenderung stagnan atau kalau ada pergerakkan hanya dalam rentang yang terbatas.

2. Support

Metode Support ini berdasarkan pada suatu batas bawah, yaitu sekelompok harga - harga terendah yang terjadi beberapa waktu lalu.

Sekelompok harga terendah ini kemudian membentuk suatu kekuatan harga yang disebut support level, yang sulit dilalui oleh pergerakkan harga berikutnya.

Jika support level terlewati, maka kecenderungan harga akan turun terus lebih dalam.

Metode support level memiliki sejumlah tingkatan, yaitu support level 1, 2 atau 3. 

Jika satu level tembus, investor bisa menggunakan level berikutnya sebagai acuan. Atau jika support level berikutnya tidak tembus, itu artinya harga akan kembali atau reversal.

3. Resistance

Metode Resistance adalah kebalikkan dari Support, yaitu sekelompok harga - harga tertinggi yang terjadi beberapa waktu lalu.

Sekelompok harga tertinggi ini kemudian membentuk suatu kekuatan harga yang disebut resistance level, yang sulit dilalui oleh pergerakkan harga berikutnya.

Sama dengan support, di resistance pun ada tingkat - tingkatannya. Jika satu tingkatan terlampaui, maka kecenderungan harga meningkat terus dan bisa mencetak harga tertinggi baru.

4. Relative Strength Index (RSI)

Indikator Relative Strength Index menunjukkan seberapa besar tekanan beli atau jual pada posisi transaksi.

Indikator RSI berada pada rentang 0% sd 100%. Ketentuannya sebagai berikut:

  • Angka RSI <= 20% berarti kondisi oversold, terjadi tekanan jual
  • Angka RSI <= 80% berarti kondisi overbought, terjadi tekanan beli

5. Stochastic

Metode Stochastic mengukur seberapa dekat jarak harga suatu mata uang, saham atau komoditi, yang kita pasang, terhadap rentang harga tertinggi dan terendah selama periode yang lalu.

Jarak ini dinyatakan dalam persentase.

Apabila stochastic mendekati angka 0 sd 20% maka itu artinya harga mendekati harga terendah. Kita perlu melakukan pembelian karena indikasinya harga sudah murah.

Apabila stochastic mendekati angka 80% maka itu artinya harga mendekati harga tertinggi. Kita perlu siap - siap melakukan penjualan karena indikasinya harga sudah mahal.

Cara Belajar Analisa Teknikal

Saat ini, sudah sangat banyak sumber informasi untuk bisa belajar analisa teknikal. Tidak hanya banyak, tetapi juga gratis.

Beberapa sumber informasi yang bisa digunakan untuk belajar analisa teknikal adalah:

1. Website

Sudah banyak website yang fokus pada analisa teknikal trading. Secara rutin situs - situs ini mengeluarkan hasil analisa teknikal secara gratis.

2. Kursus

Tersedia pula kursus - kursus online soal cara membaca grafik, melakukan analisa teknikal untuk memilih saham, emas atau forex. 

Berbeda dengan belajar sendiri, dalam kursus, bahan sudah dipersiapkan dan kurikulum pembelajaran jelas, sehingga bisa dipelajari secara komprehensif.

3. Buku

Buku jelas jadi sumber utama untuk belajar analisa teknikal. Buku lebih enak dibaca dan bisa dibawa kemana - mana.

Namun yang perlu disadari adalah isi buku sebaiknya up to date dengan kondisi terkini di pasar. Supaya apa yang dipelajari di buku tetap relevan.,

4. Software

Beberapa software bisa dibeli dan menyediakan berbagai analisa teknikal secara komprehensif. Bagusnya kalau di software mereka bisa setiap saat mengupdate informasi, trend terkini dalam analisa teknikal.

Beda Analisa Teknikal dan Fundamental

Apa bedanya melakukan analisa teknikal dan fundamental ? Ini terutama case di saham.

Pertama, analisa fundamental melakukan analisa terhadap laporan keuangan perusahaan, sementara analisa teknikal tidak peduli dengan laporan keuangan karena yang dilihat adalah trend harga dari waktu ke waktu.

Analisa fundamental percaya bahwa harga saham ditentukan oleh kinerja keuangan perusahaan yang tercermin di laporan keuangan, sementara analisa teknikal percaya bahwa penentunya adalah perilaku pasar yang tercermin di harga, maka yang dipelajari adalah trend dan pola harga.

Kedua, analisa fundamental melihat dalam spektrum investasi jangka panjang karena percaya kinerja keuangan yang bagus akan terefleksi di harga saham dalam jangka panjang, sementara, analisa teknikal cenderung untuk jangka pendek, fokus pada pergerakkan dan trend harga.

Ketiga, skill analisa fundamental pada membaca cara laporan keuangan dan membuat valuasi harga dari analisis tersebut, sementara skill analisa teknikal pada membaca grafik untuk bisa menemukan pattern dalam harga saham, forex atau emas.

Keempat, analisa teknikal fokus memperhatikan harga di pasar setiap saat untuk kemudian bisa mengambil tindakan (jual atau beli) di saat yang tepat, sedangkan analisa fundamental tidak perlu fokus setiap saat memperhatikan pergerakan harga karena setelah melakukan pembelian saham akan melihat kinerja perusahaan dari waktu ke waktu  paling cepat setiap 3 bulan.

 Analisa FundamentalAnalisa Teknikal
AnalisaKinerja KeuanganHarga
PeriodeJangka PanjangJangka Pendek
SkillAnalisis Laporan KeuanganMembaca Grafik
TujuanInvestasiTrading

Bagikan Melalui

Daftar Isi

Berlangganan Duwitmu

Komentar (0 Komentar)

Tulis Komentar - Balasan untuk Tito Shadam

Email Anda tidak akan di publish

Batalkan Membalas

Captcha Wajib Diisi

Artikel Terkait